Zetizen.com – Dunia fashion pernah dibuat terpukau oleh sebuah gaun yang dibuat langsung di atas tubuh model hanya menggunakan semprotan. Inovasi tersebut menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah runway modern. Namun, brand di balik pertunjukan unik itu, Coperni, kini justru mengumumkan penghentian operasional setelah delapan tahun membangun identitasnya di industri mode.
Kabar ini diumumkan pada Rabu, 4 November 2026, oleh dua pendirinya, Arnaud Vaillant dan Sébastien Meyer. Keputusan tersebut muncul setelah keduanya gagal menemukan solusi atas konflik berkepanjangan dengan pemegang saham mayoritas sekaligus distributor mereka, Tomorrow Ltd. Lantas, bagaimana perjalanan brand yang pernah membuat dunia fashion terpukau dengan gaun semprotan ini?
1. Coperni Tutup Setelah Delapan Tahun Berkarya di Industri Fashion
Coperni merupakan label fashion asal Paris yang didirikan oleh Arnaud Vaillant dan Sébastien Meyer pada 2013. Brand ini dikenal melalui pendekatan desain futuristik yang memadukan teknologi, eksperimen material, dan siluet modern.
Selama perjalanannya, Coperni berhasil membangun identitas yang cukup berbeda dari rumah mode konvensional. Koleksinya tidak hanya berfokus pada bentuk pakaian, tetapi juga menghadirkan ide kreatif yang sering menjadi pembicaraan di media sosial.
Sayangnya, perjalanan tersebut harus menghadapi masalah bisnis yang cukup serius. Pada 4 November 2026, kedua pendirinya mengumumkan bahwa Coperni SAS akan menghentikan operasional karena tidak berhasil mencapai kesepakatan dengan Tomorrow Ltd.
Dalam pernyataan mereka, Vaillant dan Meyer menyebut delapan tahun perjalanan Coperni sebagai pengalaman luar biasa. Keduanya juga menyampaikan rasa terima kasih kepada tim, pelanggan, mitra, dan orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan brand tersebut.
2. Bella Hadid Pernah Mengenakan Gaun yang Dibuat dari Semprotan
Salah satu momen yang membuat Coperni dikenal luas terjadi pada Paris Fashion Week Spring/Summer 2023. Saat itu, model Bella Hadid menjadi pusat perhatian ketika berjalan ke atas panggung hanya mengenakan pakaian dalam berwarna nude.
Di hadapan penonton, tim khusus kemudian menyemprotkan cairan putih langsung ke tubuh Bella. Material tersebut perlahan membentuk sebuah gaun putih yang mengikuti siluet tubuhnya.
Setelah proses penyemprotan selesai, bagian materialnya dirapikan dan dibentuk menjadi gaun dengan potongan off-shoulder serta belahan pada bagian kaki. Bella kemudian berjalan di runway menggunakan busana yang baru saja dibuat di hadapan penonton.
Momen tersebut menjadi salah satu pertunjukan paling banyak dibicarakan dalam sejarah fashion modern. Bukan hanya karena melibatkan supermodel terkenal, tetapi juga karena memperlihatkan kemungkinan baru dalam proses pembuatan pakaian.
3. Gaun Semprotan Coperni Ternyata Menggunakan Teknologi Fabrican
Di balik penampilan yang terlihat seperti sulap, ada teknologi bernama Fabrican. Material ini dikembangkan oleh Manel Torres, seorang desainer sekaligus ilmuwan asal Spanyol yang meneliti teknologi kain semprot.
Cara kerjanya menggunakan cairan yang mengandung serat dalam larutan polimer. Ketika disemprotkan, pelarutnya menguap dan serat-serat tersebut membentuk lapisan material yang bisa digunakan sebagai tekstil.
Menariknya, teknologi ini tidak hanya dirancang untuk menciptakan pakaian dengan bentuk unik. Fabrican juga membuka kemungkinan untuk membuat material dengan tekstur berbeda, menyesuaikan jenis serat dan komposisi yang digunakan.
Coperni bekerja sama dengan tim Fabrican untuk menghadirkan demonstrasi tersebut di runway. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa dunia fashion bisa menjadi tempat bertemunya kreativitas desainer dan perkembangan ilmu pengetahuan.
4. Coperni Juga Pernah Menghadirkan Tas Futuristik yang Terbuat dari Material Unik
Eksperimen Coperni ternyata tidak berhenti pada gaun semprotan. Brand ini juga dikenal melalui Swipe Bag, tas dengan bentuk melengkung yang terinspirasi dari simbol swipe pada layar digital.
Salah satu versi paling menarik diperkenalkan melalui koleksi Spring/Summer 2023, yaitu tas yang dibuat menggunakan kaca dengan efek visual iridescent. Permukaannya dapat memantulkan warna berbeda ketika terkena cahaya.
Sebelumnya, Coperni juga menarik perhatian lewat tas Swipe yang dibuat menggunakan aerogel silika, material ringan yang dikenal memiliki kemampuan isolasi panas. Penggunaan material tersebut membuat tas ini berbeda dari aksesori fashion pada umumnya.
Eksperimen seperti ini memperlihatkan karakter Coperni yang gemar menggabungkan desain aksesori dengan teknologi material. Bagi brand tersebut, tas bukan hanya benda untuk membawa barang, tetapi juga ruang untuk mengeksplorasi bentuk dan inovasi.
5. Konflik Bisnis dengan Distributor Menjadi Bagian dari Masalah Coperni
Di balik berbagai inovasi yang berhasil menarik perhatian publik, Coperni ternyata menghadapi persoalan bisnis yang tidak sederhana. Konflik dengan Tomorrow Ltd. menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan penghentian operasional.
Tomorrow merupakan pemegang saham mayoritas sekaligus distributor eksklusif Coperni sejak 2019. Hubungan keduanya mulai memburuk setelah muncul persoalan pembayaran dan pengelolaan bisnis.
Pada Februari 2026, Coperni bahkan membatalkan keikutsertaannya dalam jadwal Paris Fashion Week. Situasi tersebut kemudian berlanjut hingga perusahaan masuk ke proses perlindungan hukum melalui pengadilan komersial Paris pada Juni 2026.
Para pendiri sempat berupaya mendapatkan kembali kendali atas brand yang mereka bangun. Namun, berbagai upaya untuk menyelesaikan konflik tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Keputusan pada November ini akhirnya menjadi akhir dari operasional Coperni SAS. Meski demikian, pengumuman tersebut belum menjelaskan secara pasti bagaimana kelanjutan penggunaan nama Coperni atau kemungkinan brand tersebut kembali hadir dalam bentuk lain.
Penutupan Coperni Jadi Pengingat bahwa Inovasi Fashion Punya Tantangan Besar
Perjalanan Coperni memperlihatkan bahwa kreativitas dan inovasi dapat membuat sebuah brand mendapatkan perhatian dunia. Gaun semprotan Bella Hadid hingga tas dengan material eksperimental menjadi bukti bahwa fashion bisa berkembang jauh melampaui desain pakaian konvensional.
Namun, popularitas dan ide kreatif saja tidak selalu cukup untuk menjaga keberlangsungan sebuah label. Ada persoalan produksi, distribusi, kepemilikan, dan pengelolaan bisnis yang turut menentukan masa depan sebuah brand.
Penghentian operasional Coperni pun menjadi salah satu cerita penting dalam industri fashion 2026. Brand yang pernah membuat runway terasa seperti pertunjukan teknologi itu kini meninggalkan pertanyaan tentang masa depan kreativitas dan bisnis fashion.
Kalau kamu pernah melihat video gaun semprotan Bella Hadid, menurutmu apakah inovasi seperti itu akan menjadi masa depan fashion atau hanya menjadi pertunjukan runway yang ikonik? Temukan informasi dan cerita menarik seputar dunia fashion lainnya hanya di Zetizen.com!





