Zetizen.com - Nama Chanel kembali menjadi perbincangan di Australia pada November 2026. Rumah mode asal Prancis tersebut dijadwalkan membawa peragaan koleksi resort ke Sydney. Momen ini disebut sebagai salah satu langkah penting Chanel karena menjadi peragaan runway pertamanya di Australia.
Namun, ada cerita lama yang justru menarik untuk dibuka kembali. Jauh sebelum acara tersebut direncanakan, karya desainer Australia bernama Jenny Kee ternyata sudah pernah hadir dalam koleksi Chanel pada 1983. Bahkan, motif rancangannya digunakan pada berbagai busana dan aksesori yang diperlihatkan di runway Paris.
Kisah ini memperlihatkan bahwa hubungan dunia mode Australia dan Chanel ternyata sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu. Lantas, bagaimana karya Jenny Kee bisa sampai masuk ke koleksi rumah mode sebesar Chanel?
1. Jenny Kee, desainer Australia yang mengangkat identitas lokal
Sebelum namanya dikaitkan dengan Chanel, Jenny Kee sudah dikenal melalui karya yang terinspirasi dari alam dan identitas Australia. Ia bersama desainer Linda Jackson mengembangkan pendekatan fashion yang mengambil banyak referensi dari lingkungan sekitar mereka.
Inspirasi tersebut tidak hanya datang dari pemandangan alam. Keduanya juga mengangkat warna batu opal, flora asli Australia, satwa, hutan hujan, hingga Great Barrier Reef sebagai bagian dari bahasa visual dalam rancangan mereka.
Pada masa itu, pendekatan tersebut memberikan karakter berbeda pada karya Jenny Kee. Ia tidak sekadar mengikuti estetika fashion Eropa yang sedang berkembang, tetapi membawa elemen yang dekat dengan identitas negaranya sendiri.
Jenny Kee juga dikenal melalui Flamingo Park Frock Salon, butik yang dibukanya di Strand Arcade, Sydney. Bersama Linda Jackson, ia membangun ruang kreatif yang mempertemukan pakaian, warna, motif, dan inspirasi budaya Australia.
2. Motif Opal menjadi awal pertemuan dengan Chanel
Salah satu karya yang kemudian menarik perhatian Chanel adalah motif bernama Opal. Sesuai namanya, desain ini terinspirasi dari batu opal Australia yang memiliki perpaduan warna dan pola menyerupai pecahan cahaya.
Motif tersebut dikembangkan Jenny Kee bersama Linda Jackson dalam koleksi Flaming Opal pada 1981. Desainnya menampilkan bentuk-bentuk tidak beraturan dengan kombinasi warna mencolok, seperti biru, merah, kuning, dan putih.
Agar bisa digunakan dalam bentuk kain bermotif, desain Jenny Kee kemudian diterjemahkan menjadi cetakan tekstil melalui perusahaan Rainbow Fabrics di Italia. Fabio Bellotti, yang bekerja dengan sejumlah desainer internasional, turut berperan dalam proses tersebut.
Dari sinilah karya Jenny Kee mulai mendapatkan perhatian di lingkungan mode internasional. Motif Opal kemudian sampai ke tangan Karl Lagerfeld, yang saat itu sedang terlibat dalam proses kreatif koleksi Chanel berikutnya.
3. Karl Lagerfeld memilih motif tersebut untuk koleksi Chanel 1983
Pada 18 Oktober 1982, Chanel memperlihatkan koleksi Spring/Summer 1983 di Louvre, Paris. Di antara berbagai tampilan yang hadir dalam peragaan tersebut, terdapat motif karya Jenny Kee yang terlihat berbeda dari estetika Chanel yang lebih klasik.
Motif Opal digunakan pada sejumlah item, mulai dari gaun, jaket, tas, hingga sepatu. Salah satu tampilannya bahkan memperlihatkan bentuk yang menyerupai siluet peta Australia pada bagian depan busana.
Menurut kisah yang diceritakan kembali dalam laporan Vogue, Karl Lagerfeld tertarik pada motif Opal setelah melihat sampel kain di studio Rainbow Fabrics. Jenny Kee kemudian mendapat kabar bahwa Chanel ingin menggunakan desain tersebut dan menyetujui permintaan itu.
Motif Opal kabarnya dikembangkan menjadi sekitar 65 variasi untuk kebutuhan koleksi. Perpaduan antara motif penuh warna dan siluet khas Chanel menciptakan kontras yang cukup menarik untuk diperhatikan.
Koleksi ini juga memiliki konteks sejarah tersendiri. Peragaan tersebut merupakan salah satu karya awal Lagerfeld untuk Chanel, ketika keterlibatannya di rumah mode itu belum sepenuhnya diumumkan secara terbuka.
4. Kolaborasi ini ikut membuka jalan bagi karier Jenny Kee
Keterlibatan dalam koleksi Chanel menjadi salah satu momen penting bagi perjalanan karier Jenny Kee. Karyanya mendapatkan ruang dalam peragaan rumah mode internasional, sekaligus memperkenalkan inspirasi visual Australia kepada audiens yang lebih luas.
Dalam wawancara yang dikutip Vogue, Jenny Kee mengungkapkan bahwa keterlibatan tersebut sangat membantu perkembangan kariernya. Ia juga mengingat peran sejumlah orang yang mempertemukannya dengan lingkungan kreatif internasional, termasuk Karl Lagerfeld, Fabio Bellotti, Anna Piaggi, dan Vernon Lambert.
Menariknya, jejak kolaborasi ini tidak hanya tersimpan dalam dokumentasi runway. Salah satu busana Chanel yang menggunakan motif Opal juga tercatat dalam koleksi National Gallery of Victoria (NGV), Australia.
Catatan museum tersebut mengidentifikasi Chanel dan Karl Lagerfeld sebagai pihak yang berkaitan dengan busana, sementara desain motif Black Opal dikreditkan kepada Jenny Kee. Koleksi itu diberikan oleh House of Chanel melalui Vogue Australia pada 1983.
Keberadaan arsip tersebut menjadi bukti bahwa kontribusi Jenny Kee bukan hanya cerita di balik layar fashion. Karyanya juga menjadi bagian dari dokumentasi sejarah mode yang masih dapat ditelusuri hingga sekarang.
5. Mengapa cerita ini menarik menjelang peragaan Chanel di Sydney?
Peragaan Chanel di Sydney pada November 2026 menjadi momen yang tepat untuk melihat kembali hubungan rumah mode tersebut dengan Australia. Meski disebut sebagai peragaan runway pertama Chanel di negara itu, karya Jenny Kee menunjukkan bahwa inspirasi dari Australia sebenarnya sudah pernah hadir dalam koleksi Chanel puluhan tahun sebelumnya.
Ada perbedaan antara menggelar peragaan di suatu negara dan menggunakan karya desainer dari negara tersebut. Kehadiran motif Jenny Kee pada koleksi 1983 memperlihatkan bagaimana pengaruh kreatif lintas negara dapat masuk ke dalam sejarah sebuah rumah mode, bahkan sebelum rumah mode itu datang langsung ke tempat asal inspirasinya.
Cerita ini juga mengingatkan bahwa sejarah fashion tidak selalu hanya dibentuk oleh nama-nama besar dari Paris, Milan, atau New York. Desainer dari berbagai negara turut membawa gagasan dan identitas lokal yang dapat memengaruhi perkembangan mode internasional.
Pada akhirnya, kisah Jenny Kee memberikan perspektif lain dalam melihat Chanel. Di balik identitas klasik rumah mode tersebut, ada jejak kreativitas desainer Australia yang pernah ikut mewarnai salah satu koleksinya. Ingin tahu lebih banyak kisah di balik kolaborasi desainer ternama dan rumah mode dunia? Temukan cerita menarik seputar fashion lainnya hanya di Zetizen.com!





