zetizen

Bank Sampah Digital Sudah Ada, Lalu Mengapa Sampah Kota Serang Masih Menumpuk?

Opini
Logo Bank Sampah Digital

Zetizen - Sampah masih menjadi persoalan serius di Kota Serang. Tumpukan sampah di sudut jalan, saluran air, dan kawasan permukiman masih mudah ditemukan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu keindahan kota, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan kenyamanan masyarakat.

Ironisnya, persoalan ini terus terjadi di tengah berbagai upaya dan inovasi pengelolaan sampah yang telah dijalankan pemerintah daerah. Sebagai ibu kota Provinsi Banten, Kota Serang seharusnya mampu menjadi contoh dalam pengelolaan lingkungan.

Namun kenyataannya, permasalahan sampah justru masih menjadi masalah klasik yang terus berulang. Timbulan sampah yang meningkat belum diimbangi dengan perubahan perilaku masyarakat serta sistem pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan.

Realitas di Lapangan: Sampah Terus Bertambah Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023 mencatat bahwa Kota Serang menghasilkan sekitar 584,83 ton sampah per hari. Ironisnya, tingkat pengurangan sampah baru mencapai 0,77%, sementara penanganan sampah berada di angka 55,99%.

Artinya, sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa adanya pengurangan signifikan dari sumbernya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Kota Serang masih bertumpu pada pendekatan lama, yakni kumpul–angkut–buang. Pendekatan ini belum menyentuh akar persoalan, yaitu rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.

Solusi yang Sudah Ada: Bank Sampah Digital Di tengah persoalan tersebut, Kota Serang sebenarnya telah memiliki inovasi berupa Bank Sampah Digital, yang resmi diluncurkan pada Desember 2021. Program ini mendorong masyarakat untuk memilah sampah, menabung sampah bernilai ekonomi, serta memanfaatkan teknologi digital dalam pengelolaan sampah.

Hingga saat ini, Bank Sampah Digital telah melibatkan sekitar 4.000 nasabah dan lebih dari 100 unit bank sampah. Capaian ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai terlibat aktif dalam pengelolaan sampah dan memiliki kesadaran lingkungan yang lebih baik.

Masalah Utama: Belum Menyentuh Mayoritas Warga Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Serang yang mencapai lebih dari 730 ribu jiwa, tingkat partisipasi Bank Sampah Digital tersebut masih belum mencapai satu persen. Angka ini menunjukkan bahwa dampak Bank Sampah Digital terhadap pengurangan sampah secara menyeluruh masih belum optimal.

Salah satu kendala utama adalah kurangnya sosialisasi. Banyak masyarakat yang bahkan belum mengetahui keberadaan Bank Sampah Digital, sehingga jangankan memahami cara kerja dan manfaatnya, mengetahui bahwa program ini ada pun belum. Selain itu, rendahnya literasi teknologi juga menjadi hambatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang kurang familiar dengan penggunaan aplikasi digital.

Harapan ke Depan: Edukasi dan Sosialisasi yang Merata Situasi ini memperlihatkan bahwa inovasi yang baik tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa dukungan sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan.

Bank Sampah Digital memiliki potensi besar sebagai solusi pengelolaan sampah berkelanjutan, tetapi masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memperkuat sosialisasi hingga ke tingkat RT dan RW, disertai edukasi pemilahan sampah serta pendampingan teknologi yang mudah dipahami.

Kolaborasi dengan komunitas, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat juga penting untuk memperluas jangkauan program ini. Pada akhirnya, menumpuknya sampah di Kota Serang meskipun Bank Sampah Digital sudah ada menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan solusi, melainkan pada sejauh mana solusi tersebut benar-benar menjangkau dan melibatkan masyarakat secara luas.

Mahasiswa Bukan Sekadar Mengkritik Kami mahasiswa, bukan hanya mengkritik kebijakan. Kami ingin melihat sistem pengelolaan sampah yang adil, transparan, dan berkelanjutan. Kehadiran Bank Sampah Digital di Kota Serang dapat menjadi langkah awal yang baik, dengan catatan disertai evaluasi kritis, sosialisasi yang merata, serta penguatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Jika pemerintah daerah benar-benar ingin membangun kesadaran lingkungan, maka Bank Sampah Digital harus mampu menjembatani perubahan perilaku masyarakat, bukan sekadar menjadi program inovatif yang berhenti pada segelintir kelompok.

Di tangan generasi muda yang teredukasi dan pemerintah yang terbuka terhadap masukan, pengelolaan sampah Kota Serang yang partisipatif dan berkelanjutan bukanlah hal yang mustahil.

Halaman: