zetizen

Di Balik Banjir Sumatera: Kayu Gelondongan dan Misteri Tanpa Tersangka

Opini
Gelondongan kayu terlihat mengapung di aliran sungai saat banjir melanda wilayah Sumatera.

Zetizen - Banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera, khususnya di daerah aliran Sungai Garoga, Tapanuli, menyisakan lebih dari sekadar genangan air dan lumpur.

Di balik bencana itu, muncul pemandangan yang mengundang tanda tanya: gelondongan kayu berukuran besar yang hanyut dan mengapung di sungai. Kayu-kayu tersebut seolah membawa pesan bahwa ada persoalan yang belum selesai dibicarakan.

Di tengah upaya pemulihan dan empati terhadap para korban, publik justru dihadapkan pada fakta bahwa hingga kini belum ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus tersebut.

Padahal, aparat penegak hukum telah menaikkan dugaan pelanggaran lingkungan hidup ke tahap penyidikan. Situasi ini memunculkan pertanyaan sederhana namun penting: dari mana asal kayu-kayu itu, dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?

Kayu gelondongan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja karena banjir. Ia merupakan hasil dari aktivitas manusia—entah itu dari pengelolaan hutan yang lalai atau praktik yang memang melanggar aturan.

Ketika kayu-kayu tersebut hanyut dan menyumbat aliran sungai, dampaknya tidak lagi sebatas kerusakan lingkungan, tetapi juga membahayakan keselamatan warga. Arus air menjadi lebih kuat, banjir makin sulit dikendalikan, dan kerugian pun semakin besar.

Sayangnya, kasus-kasus lingkungan sering kali berakhir tanpa kejelasan. Publik mendengar istilah “masih dalam proses” atau “menunggu hasil penyidikan”, namun jarang melihat kelanjutannya. Ketika tidak ada kepastian hukum, rasa keadilan pun ikut mengambang. Yang tersisa hanyalah kecurigaan dan ketidakpercayaan.

Masyarakat, terutama generasi muda, berhak mendapatkan penjelasan yang terbuka. Transparansi soal asal kayu, legalitas aktivitas di kawasan hulu, serta pihak-pihak yang terlibat bukan sekadar tuntutan, melainkan bagian dari tanggung jawab negara.

Penegakan hukum yang tegas bukan hanya soal mencari siapa yang salah, tetapi juga tentang mencegah bencana serupa terulang di masa depan.

Kasus kayu gelondongan di balik banjir Sumatera seharusnya menjadi pengingat bersama bahwa bencana tidak selalu murni disebabkan oleh alam. Cara manusia memperlakukan lingkungan memiliki peran besar di dalamnya. Jika persoalan ini dibiarkan tanpa kejelasan, maka banjir akan terus datang, sementara pertanyaan tentang tanggung jawab akan terus tenggelam.

Pada akhirnya, kayu-kayu yang hanyut itu bukan sekadar bagian dari bencana, tetapi simbol dari persoalan lingkungan dan hukum yang belum dituntaskan. Pertanyaannya, apakah kita akan terus membiarkannya mengalir begitu saja, atau mulai menuntut kejelasan sebelum semuanya kembali terulang?