zetizen

Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Resmi Diproduksi April 2026, Adaptasi Novel Cetakan ke-100

Movie
Cast Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Source: gramedia.id

Zetizen - Kabar yang sudah lama ditunggu akhirnya resmi datang. Novel mega best seller Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna akan diadaptasi menjadi film layar lebar dan dijadwalkan mulai produksi pada April 2026.

Buat kamu yang pernah baca novelnya (atau minimal pernah lihat quote-nya berseliweran di media sosial), pasti tahu kalau cerita ini bukan sekadar tentang mie ayam. Ini tentang lelahnya hidup, tentang merasa tertinggal, dan tentang harapan yang kadang datang dari hal sederhana.

Dari Novel Cetakan ke-100 ke Layar Lebar

Novel ini bukan buku biasa. Sejak terbit, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berhasil menyentuh ratusan ribu pembaca dan bahkan sudah masuk cetakan ke-100. Untuk ukuran industri buku Indonesia, capaian ini tergolong sangat besar dan menempatkannya sebagai salah satu IP lokal dengan performa komersial terkuat dalam beberapa tahun terakhir.

Yang bikin makin menarik, novel karya Brian Khrisna ini juga sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Jepang. Ini berarti hak terjemahan (translation rights) novel tersebut dibeli oleh penerbit di Jepang dan dipasarkan untuk pembaca di sana.

Fakta bahwa karya lokal bisa menembus pasar Jepang menjadi pencapaian tersendiri. Jepang dikenal memiliki industri penerbitan yang sangat kompetitif dan selektif terhadap karya terjemahan. Artinya, secara kualitas cerita dan relevansi tema, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dinilai punya daya tarik universal.

Siapa di Balik Adaptasi Filmnya?

Proyek film ini merupakan kolaborasi antara Sinergi Pictures dan Ben Film.

Kursi sutradara dipercayakan kepada Kuntz Agus, yang sebelumnya menggarap Dear Nathan: Thank You Salma. Sementara naskahnya ditulis oleh Alim Sudio, sosok di balik suksesnya Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia.

Yang bikin makin solid, Nia Dinata juga ikut terlibat sebagai konsultan skenario. Jadi secara tim kreatif, proyek ini nggak main-main.

Cerita yang Simpel Tapi Ngena

Buat yang belum baca novelnya, ceritanya berpusat pada Ale, seorang pria yang ada di titik terendah hidupnya dan berencana mengakhirinya.

Di 24 jam terakhir sebelum keputusan besar itu, Ale cuma punya satu keinginan sederhana: makan seporsi mie ayam.

Tapi hidup memang sering absurd. Warung yang dia tuju justru tutup.

Dari situ, cerita mulai bergerak. Penundaan kecil itu mempertemukan Ale dengan orang-orang dan peristiwa tak terduga yang perlahan mengubah cara pandangnya tentang hidup.

Salah satu kutipan paling ikonik dari novel ini berbunyi:

“Hidup ternyata bukanlah perlombaan. Tidak masalah jika langkahmu melambat dan tak secepat orang yang lain.”

Kalimat ini yang bikin banyak pembaca Gen Z merasa, “ini gue banget.”

Halaman: