
Zetizen.com - Siapa bilang lahan sempit menghalangi mimpi untuk panen ikan lele? Justru di sinilah tantangan dan peluang itu hadir. Menyadari potensi besar yang tersimpan di pekarangan rumah, Muhammad Afzaal Adeela Putra Kusnanto, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 26 Universitas Diponegoro, tergerak untuk membekali pemuda-pemudi Karang Taruna RW 15, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, dengan ilmu manajemen pemberian pakan yang tepat.
Pasalnya, semangat dan ketertarikan generasi muda terhadap budidaya ikan dalam galon (Budikdalon) begitu membara, dan mereka ingin menjadi pelopor perubahan bagi lingkungan sekitar.
Kegiatan yang berlangsung pada 12 Agustus 2026 ini mengusung tema "Edukasi Efisiensi dan Efektivitas Manajemen Pemberian Pakan Ikan Lele: Kunci Sukses Budidaya di Lahan Terbatas."
Program ini dirancang khusus untuk mengasah kemampuan para anggota Karang Taruna agar tidak hanya pandai membudidayakan, tetapi juga mampu menjadi agen edukasi bagi warga masyarakat RW 15.
Harapannya, ilmu ini akan terus mengalir dan menginspirasi banyak orang untuk kembali mencoba budidaya ikan dalam galon yang sempat terhenti.
Inisiatif mulia ini tidak muncul begitu saja. Hal tersebut terjadi lahir dari keprihatinan mendalam setelah berdiskusi dengan para pemuda yang mengeluhkan kegagalan budidaya lele di masa lalu. Pak Andre, selaku Ketua RT 01, turut membuka suara mewakili warganya.
"Di lingkungan RW 15, terkhususnya RT 01, kami pernah antusias menjalankan budidaya lele. Namun, hasil panen dapat dibilang cukup mengecewakan dan merugi karena manajemen pemberian pakan yang kurang baik.
Biaya membengkak, ikan tak kunjung besar," ungkap Pak Andre dengan nada penuh haru. "Kami sangat berharap, setelah pelatihan ini, adik-adik Karang Taruna mampu menjadi duta budidaya dan mengajak warga untuk mencoba lagi, tentu dengan cara yang lebih cerdas. Semoga semangat itu kembali menyala!"
Menyambut harapan tersebut, Muhammad Afzaal yang merupakan mahasiswa Program Studi Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip menyusun materi yang aplikatif dan mudah dipahami.
Ia ingin para pemuda ini tidak hanya menjadi pembudidaya handal, tetapi juga pendidik bagi komunitasnya. "Karang Taruna adalah ujung tombak perubahan. Jika kalian paham, maka seluruh RW 15 akan paham.
Mari kita bangkitkan kembali kejayaan budidaya lele di galon dengan strategi pakan yang efisien dan efektif!" seru Afzaal membakar semangat peserta.
Materi pertama yang disampaikan adalah fondasi penting: manajemen pemberian pakan ikan lele yang baik. Afzaal menekankan bahwa memberi pakan bukan sekadar menuang, tetapi ada seni dan ilmunya.
Mulai dari jadwal teratur, takaran ideal, hingga pengguanan probiotik sebagai teknik pemanfaatan limbah ikan supaya pakan yang tersisa tidak merusak kualitas air. Dengan ini, biaya pakan bisa ditekan hingga 20-30%.
Setelah fondasi kuat terbangun, Afzaal membawa para pemuda pada inovasi yang akan menghemat pengeluaran secara drastis: pemanfaatan maggot (larva Black Soldier Fly) sebagai pakan alternatif.
Para peserta diajak untuk melihat maggot bukan lagi sebagai hewan menjijikkan, melainkan sebagai emas protein yang bisa diproduksi sendiri dari sampah organik rumah tangga.







