TRENDING
Zetizen — Media Inspirasi & Gaya Hidup Generasi Muda Indonesia•Ikuti Kuis Interaktif Zetizen dan Uji Pengetahuanmu!•Temukan Tren Terbaru Seputar Musik, Fashion, dan Pop Culture•Zetizen — Media Inspirasi & Gaya Hidup Generasi Muda Indonesia•Ikuti Kuis Interaktif Zetizen dan Uji Pengetahuanmu!•Temukan Tren Terbaru Seputar Musik, Fashion, dan Pop Culture•
Advertisement

Mahasiswa KKN-T Undip Bekali Karang Taruna RW 15 dengan Edukasi Manajemen Pakan Ikan Lele yang Efisien dan Efektif

n
Jumat, 14 Agu 2026•14 Agu 2026
Mahasiswa KKN-T Undip Bekali Karang Taruna RW 15 dengan Edukasi Manajemen Pakan Ikan Lele yang Efisien dan Efektif
Mahasiswa KKN-T Undip Bekali Karang Taruna RW 15 dengan Edukasi Manajemen Pakan Ikan Lele yang Efisien dan EfektifFoto: najwa farihaa / Zetizen Media
Advertisement

Zetizen.com - Siapa bilang lahan sempit menghalangi mimpi untuk panen ikan lele? Justru di sinilah tantangan dan peluang itu hadir. Menyadari potensi besar yang tersimpan di pekarangan rumah, Muhammad Afzaal Adeela Putra Kusnanto, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 26 Universitas Diponegoro, tergerak untuk membekali pemuda-pemudi Karang Taruna RW 15, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, dengan ilmu manajemen pemberian pakan yang tepat.

Pasalnya, semangat dan ketertarikan generasi muda terhadap budidaya ikan dalam galon (Budikdalon) begitu membara, dan mereka ingin menjadi pelopor perubahan bagi lingkungan sekitar.

Kegiatan yang berlangsung pada 12 Agustus 2026 ini mengusung tema "Edukasi Efisiensi dan Efektivitas Manajemen Pemberian Pakan Ikan Lele: Kunci Sukses Budidaya di Lahan Terbatas."

Program ini dirancang khusus untuk mengasah kemampuan para anggota Karang Taruna agar tidak hanya pandai membudidayakan, tetapi juga mampu menjadi agen edukasi bagi warga masyarakat RW 15.

Harapannya, ilmu ini akan terus mengalir dan menginspirasi banyak orang untuk kembali mencoba budidaya ikan dalam galon yang sempat terhenti.

Inisiatif mulia ini tidak muncul begitu saja. Hal tersebut terjadi lahir dari keprihatinan mendalam setelah berdiskusi dengan para pemuda yang mengeluhkan kegagalan budidaya lele di masa lalu. Pak Andre, selaku Ketua RT 01, turut membuka suara mewakili warganya.

"Di lingkungan RW 15, terkhususnya RT 01, kami pernah antusias menjalankan budidaya lele. Namun, hasil panen dapat dibilang cukup mengecewakan dan merugi karena manajemen pemberian pakan yang kurang baik.

Biaya membengkak, ikan tak kunjung besar," ungkap Pak Andre dengan nada penuh haru. "Kami sangat berharap, setelah pelatihan ini, adik-adik Karang Taruna mampu menjadi duta budidaya dan mengajak warga untuk mencoba lagi, tentu dengan cara yang lebih cerdas. Semoga semangat itu kembali menyala!"

Menyambut harapan tersebut, Muhammad Afzaal yang merupakan mahasiswa Program Studi Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip menyusun materi yang aplikatif dan mudah dipahami.

Ia ingin para pemuda ini tidak hanya menjadi pembudidaya handal, tetapi juga pendidik bagi komunitasnya. "Karang Taruna adalah ujung tombak perubahan. Jika kalian paham, maka seluruh RW 15 akan paham.

Mari kita bangkitkan kembali kejayaan budidaya lele di galon dengan strategi pakan yang efisien dan efektif!" seru Afzaal membakar semangat peserta.

Materi pertama yang disampaikan adalah fondasi penting: manajemen pemberian pakan ikan lele yang baik. Afzaal menekankan bahwa memberi pakan bukan sekadar menuang, tetapi ada seni dan ilmunya.

Mulai dari jadwal teratur, takaran ideal, hingga pengguanan probiotik sebagai teknik pemanfaatan limbah ikan supaya pakan yang tersisa tidak merusak kualitas air. Dengan ini, biaya pakan bisa ditekan hingga 20-30%.

Setelah fondasi kuat terbangun, Afzaal membawa para pemuda pada inovasi yang akan menghemat pengeluaran secara drastis: pemanfaatan maggot (larva Black Soldier Fly) sebagai pakan alternatif.

Para peserta diajak untuk melihat maggot bukan lagi sebagai hewan menjijikkan, melainkan sebagai emas protein yang bisa diproduksi sendiri dari sampah organik rumah tangga.

"Bayangkan, alih-alih membeli pelet mahal, kalian bisa membuat pakan sendiri. Ini adalah kemandirian ekonomi dan solusi lingkungan sekaligus!" jelas Afzaal yang langsung disambut sorak antusias para pemuda.

Puncak dari edukasi ini adalah sesi pengelolaan pemberian pakan kombinasi, di mana Afzaal mengajarkan strategi pencampuran pelet dan maggot secara proporsional. Mulai dari pemberian maggot 10% di awal hingga 50% menjelang panen.

Dengan metode ini, biaya produksi bisa ditekan hingga 40%, dan hasil panen pun optimal. Para peserta juga diberikan simulasi perhitungan sederhana agar mereka mampu menjelaskan keuntungan ini kepada warga lainnya.

Ketua Karang Taruna RW 15, Dimas, menyambut positif kegiatan ini. "Kami sangat antusias karena materi yang diberikan sangat aplikatif. Selama ini kami hanya tahu budidaya biasa, sekarang kami punya bekal untuk mengelola pakan dengan cerdas.

Kami bertekad untuk menjadi percontohan dan akan segera mensosialisasikan ilmu ini kepada seluruh warga, terutama mereka yang pernah gagal. Budikgalon akan kami hidupkan kembali!" ujar Dimas dengan penuh keyakinan.

Senada dengan Dimas, Felisya Putri, anggota Karang Taruna RW 15 menambahkan, "Kegiatan ini membuka mata kami bahwa kegagalan dulu karena kurangnya pengetahuan.

Sekarang, dengan ilmu manajemen pakan dan maggot ini, kami optimis bisa memanfaatkan lahan terbatas menjadi ladang ekonomi baru. Kami siap menjadi jembatan antara mahasiswa dan masyarakat untuk menyebarkan praktik baik ini.

Program ini tidak hanya sebatas transfer ilmu, tetapi juga membangun ekosistem kolaborasi antara akademisi, pemuda, dan masyarakat.

Hal ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 2 (Tanpa Kelaparan) dengan mendekatkan sumber pangan, poin 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan) melalui pemanfaatan lahan produktif, dan poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengolahan limbah menjadi pakan.

Dengan berakhirnya kegiatan, semangat baru telah tertanam di hati para pemuda Karang Taruna RW 15. Mereka tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga misi mulia: menjadi duta perubahan.

Harapan besar pun menggantung, bahwa sebentar lagi, gelombang budidaya ikan dalam galon akan kembali marak di RW 15, dibarengi dengan tawa bahagia warga yang menuai hasil panen melimpah tanpa was-was akan kerugian. Mari bersama, wujudkan ketahanan pangan dari halaman rumah kita sendiri!

Advertisement

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?

602 pembaca telah memberikan tanggapan

Related Article

Lihat Semua
Advertisement