Zetizen
Advertisement

Masih Layakkah GBK Jadi Homebase Untuk Musim Depan?

N
Penulis:Najmi Raihan
Minggu, 1 Nov 2026•1 Hari Lalu
Masih Layakkah GBK Jadi Homebase Untuk Musim Depan?
Pemain Persija melakukan selebrasi bersama The jakmania setelah memenangi laga vs Persib Bandung di Gelora Bung KarnoSumber: Instagram @persija
Advertisement

Zetizen.com - Persoalan stadion kandang kembali menjadi tantangan bagi Persija Jakarta. Ketika The Jakmania berharap bisa melihat Macan Kemayoran lebih sering bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), renovasi lapangan justru membuat klub ibu kota tersebut harus mencari tempat lain hingga April 2027. Situasi ini pun memunculkan pertanyaan, apakah GBK masih layak dipertahankan sebagai homebase Persija untuk musim 2027/2028?

Persija dipastikan tidak bisa menggunakan GBK karena adanya proyek penguatan struktur lapangan atau Field of Play (FOP). Pekerjaan yang dimulai pada 30 Oktober 2026 tersebut membuat aktivitas pertandingan sepak bola di stadion itu harus dihentikan sementara. Bagi Persija, kondisi ini bukan sekadar kehilangan tempat bertanding, tetapi juga memperlihatkan sulitnya mendapatkan stadion yang bisa digunakan secara konsisten sebagai kandang.

GBK Kembali Direnovasi, Persija Harus Mencari Kandang Alternatif

Kabar renovasi GBK menjadi perhatian tersendiri bagi Persija. Pasalnya, stadion berkapasitas besar tersebut selama ini menjadi salah satu tempat yang diharapkan mampu menghadirkan atmosfer pertandingan kandang dengan dukungan penuh The Jakmania.

Berdasarkan keterangan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK), penguatan struktur lapangan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan stadion dalam mengakomodasi berbagai kegiatan berskala besar.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah struktur dasar lapangan yang dinilai perlu diperkuat agar mampu menahan beban panggung dan peralatan produksi dalam kegiatan nonolahraga.

Proses pengerjaan dijadwalkan berlangsung hingga April 2027. Artinya, Persija harus kembali menyesuaikan agenda pertandingan kandangnya selama beberapa bulan ke depan.

Bahkan, dua pertandingan kandang terdekat melawan Persebaya Surabaya pada 7 November dan Garudayaksa FC pada 28 November 2026 tidak bisa digelar di GBK.

Kepala Unit Stadion Utama GBK, Abdal Hiari Rijal, menjelaskan bahwa pihak pengelola telah berkoordinasi dengan manajemen Persija mengenai jadwal penggunaan stadion.

Bukan Kali Pertama Persija Kehilangan GBK

Jika melihat perjalanan Persija dalam beberapa musim terakhir, persoalan stadion sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

GBK beberapa kali tidak bisa digunakan karena berbagai agenda, mulai dari persiapan turnamen sepak bola hingga kegiatan hiburan berskala besar. Situasi tersebut membuat Persija harus mencari stadion alternatif untuk menjalankan pertandingan kandang.

Pada September 2026, misalnya, Persija juga harus meninggalkan GBK karena stadion tersebut dipersiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026.

Kondisi serupa kembali terjadi ketika renovasi lapangan diumumkan pada akhir Oktober 2026.

Menariknya, Persija sebenarnya sudah memiliki dua stadion yang didaftarkan sebagai venue kandang utama pada Super League 2026/2027, yakni GBK dan Jakarta International Stadium (JIS).

Namun, memiliki dua stadion tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Ketika agenda penggunaan stadion berbenturan dengan pertandingan sepak bola, Persija tetap harus melakukan penyesuaian.

Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan hanya soal ketersediaan stadion, tetapi juga kepastian penggunaan dalam satu musim kompetisi.

Apakah GBK Masih Layak Menjadi Homebase Persija Musim 2027/2028?

Inilah pertanyaan yang menarik untuk dibicarakan menjelang musim berikutnya.

Secara fasilitas dan atmosfer, GBK memiliki daya tarik tersendiri bagi Persija. Stadion ikonik di kawasan Senayan tersebut punya kapasitas besar dan mampu menghadirkan pengalaman pertandingan yang berbeda ketika dipenuhi pendukung Macan Kemayoran.

Namun, status stadion megah tidak selalu menjamin kenyamanan sebuah klub dalam menjalankan kompetisi.

Persija membutuhkan stadion yang bukan hanya bagus secara fasilitas, tetapi juga memiliki kepastian jadwal, kualitas lapangan, serta akses yang mudah dijangkau oleh pendukungnya.

Jika setiap musim masih harus berhadapan dengan agenda konser, turnamen, maupun renovasi, manajemen tentu perlu mempertimbangkan kembali strategi penggunaan GBK sebagai kandang utama.

Bukan berarti GBK harus sepenuhnya ditinggalkan. Akan tetapi, Persija perlu memiliki perencanaan yang lebih matang agar tidak terus-menerus berada dalam situasi mencari kandang alternatif ketika kompetisi sedang berjalan.

Musim 2027/2028 bisa menjadi momentum bagi manajemen untuk mengevaluasi kembali apakah GBK akan tetap menjadi pilihan utama atau justru menjadikan JIS sebagai pusat aktivitas pertandingan kandang.

JIS Bisa Menjadi Solusi, tetapi Ada Pekerjaan Rumah yang Harus Diselesaikan

Di tengah ketidakpastian penggunaan GBK, Jakarta International Stadium berpotensi menjadi pilihan yang lebih konsisten bagi Persija.

Keberadaan JIS memberikan keuntungan tersendiri karena masih berada di wilayah Jakarta. Dengan demikian, The Jakmania tidak harus selalu melakukan perjalanan ke luar kota untuk menyaksikan pertandingan kandang tim kesayangannya.

Namun, menjadikan JIS sebagai homebase utama juga membutuhkan sejumlah pertimbangan.

Manajemen perlu memastikan kualitas rumput, kesiapan fasilitas pertandingan, akses transportasi, hingga koordinasi penggunaan stadion dengan agenda lainnya.

Kualitas lapangan juga menjadi perhatian pelatih Persija, Shin Tae-yong. Ia menyayangkan Persija tidak bisa menggunakan GBK karena menurutnya stadion tersebut memiliki kualitas lapangan yang dibutuhkan untuk memberikan hiburan terbaik kepada para pendukung.

Artinya, pilihan stadion bukan sekadar menentukan lokasi pertandingan. Kualitas fasilitas juga berpengaruh terhadap kenyamanan pemain dalam menjalankan strategi permainan.

Jika JIS mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara konsisten, bukan tidak mungkin stadion tersebut menjadi pilihan jangka panjang bagi Macan Kemayoran.

Persija Membutuhkan Kandang yang Pasti, Bukan Sekadar Stadion Megah

Pada akhirnya, persoalan GBK dan Persija sebenarnya lebih besar daripada sekadar renovasi lapangan. Bagi sebuah klub dengan basis pendukung besar seperti Persija, kepastian kandang merupakan bagian penting dalam membangun identitas dan kedekatan dengan suporter.

The Jakmania tentu ingin memiliki tempat yang bisa mereka datangi secara rutin untuk mendukung tim kebanggaannya. Begitu pula para pemain yang membutuhkan atmosfer kandang untuk mendapatkan dukungan maksimal sepanjang kompetisi.

GBK tetap memiliki nilai historis dan emosional bagi Persija. Namun, nilai tersebut perlu berjalan beriringan dengan kebutuhan profesional klub.

Renovasi yang dijadwalkan selesai pada April 2027 memang membuka peluang Persija kembali menggunakan stadion kebanggaan Indonesia tersebut. Akan tetapi, persoalan konsistensi penggunaan tetap menjadi pekerjaan rumah bagi manajemen.

Musim 2027/2028 bisa menjadi momentum untuk menentukan arah kandang Persija ke depan. Apakah GBK tetap menjadi pilihan utama dengan segala keterbatasan jadwalnya, atau JIS mulai dipersiapkan sebagai rumah yang lebih konsisten bagi Macan Kemayoran?

Sebab, bagi Persija dan The Jakmania, rumah bukan hanya tentang seberapa megah sebuah stadion. Lebih dari itu, kandang adalah tempat para pemain bertanding dan suporter bisa hadir untuk memberikan dukungan tanpa terus dibayangi ketidakpastian. Baca informasi dan berita menarik lainnya seputar sepak bola Indonesia hanya di Zetizen.com!

Editor:reno oktabrian ramadhan
Advertisement

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?

602 pembaca telah memberikan tanggapan

Related Article

See All
Advertisement