
Zetizen.com - Dalam rangka meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Literasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa melaksanakan program edukasi kesehatan mengenai cuci tangan 6 langkah kepada siswa-siswi SDN Pasanggrahan 1 pada tanggal 27 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan menanamkan kebiasaan hidup bersih sejak usia dini sebagai upaya pencegahan berbagai penyakit menular.
Tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sering bersentuhan dengan berbagai benda di lingkungan sekitar. Saat anak-anak bermain, belajar, memegang alat tulis, gagang pintu, meja, maupun saat membeli makanan di kantin, tangan dapat menjadi media perpindahan berbagai kuman, bakteri, maupun virus.
Tanpa disadari, tangan yang kotor sering kali menyentuh wajah, hidung, mulut, dan mata sehingga mikroorganisme penyebab penyakit dapat masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu, mencuci tangan dengan cara yang benar menjadi langkah sederhana namun memiliki manfaat yang sangat besar dalam menjaga kesehatan.
Kegiatan edukasi diawali dengan pemberian materi mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan. Mahasiswa KKM menjelaskan kepada para siswa bahwa kebiasaan mencuci tangan tidak hanya membuat tangan menjadi bersih, tetapi juga mampu mengurangi risiko terkena berbagai penyakit, seperti diare, influenza, batuk pilek, infeksi saluran pernapasan, hingga penyakit yang disebabkan oleh kuman lainnya.
Penyampaian materi dilakukan menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak sekolah dasar.
Selain menjelaskan manfaat mencuci tangan, mahasiswa juga mengenalkan enam langkah cuci tangan yang benar. Keenam langkah tersebut meliputi menggosok kedua telapak tangan, menggosok punggung tangan kanan dan kiri secara bergantian, membersihkan sela-sela jari, menggosok punggung jari dengan posisi saling mengunci, membersihkan ibu jari secara memutar, serta menggosok ujung jari pada telapak tangan untuk membersihkan bagian kuku.
Setiap langkah dijelaskan secara perlahan agar seluruh siswa dapat mengikuti dengan baik.
Agar suasana belajar menjadi lebih menarik, penyampaian materi tidak hanya dilakukan melalui penjelasan, tetapi juga disertai demonstrasi secara langsung. Mahasiswa KKM memperagakan setiap gerakan cuci tangan di depan kelas, kemudian mengajak seluruh siswa untuk mempraktikkannya bersama-sama.
Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti setiap tahapan, bahkan saling mengingatkan apabila ada teman yang masih melewatkan salah satu langkah. Metode pembelajaran secara praktik ini membantu siswa lebih mudah mengingat urutan gerakan dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan secara teori.
Dalam kegiatan ini juga disampaikan bahwa mencuci tangan sebaiknya dilakukan menggunakan sabun dan air mengalir. Sabun berfungsi mengangkat minyak dan kotoran yang menempel pada kulit sehingga kuman dapat hilang secara lebih efektif.
Namun, apabila sabun dan air tidak tersedia, penggunaan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60% dapat menjadi alternatif untuk membersihkan tangan. Anak-anak juga diingatkan bahwa penggunaan hand sanitizer tidak dapat menggantikan cuci tangan menggunakan sabun apabila tangan terlihat kotor atau berminyak.
Mahasiswa KKM turut memberikan pemahaman mengenai waktu-waktu penting untuk mencuci tangan, yaitu sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah bermain di luar ruangan, setelah batuk atau bersin, setelah memegang benda yang kotor, serta setelah membuang sampah.
Dengan mengetahui waktu yang tepat untuk mencuci tangan, diharapkan siswa dapat menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah.
Interaksi yang terjalin selama kegiatan berlangsung sangat positif. Para siswa aktif menjawab pertanyaan yang diberikan, berani maju untuk memperagakan kembali enam langkah cuci tangan, serta menunjukkan semangat yang tinggi ketika mengikuti sesi praktik bersama.







