Zetizen.com - Tidak semua lagu hadir hanya untuk menemani suasana hati. Beberapa karya justru mengajak pendengarnya berhenti sejenak dan melihat kembali cara mereka memahami diri sendiri. Hal tersebut terasa dalam “Egosentris”, lagu debut Alkateri yang membahas tentang ambisi, keinginan untuk mendapatkan pengakuan, hingga bagaimana ego dapat memengaruhi perjalanan seseorang.
Band asal Bandung ini memperkenalkan “Egosentris” pada September 2022 sebagai karya pertama mereka. Mengusung warna indie pop dan alternative pop, Alkateri menghadirkan lagu yang lahir dari keresahan serta proses kontemplasi selama masa pandemi, dengan cerita yang masih relevan bagi banyak anak muda hingga saat ini.
Lirik Lagu “Egosentris” Alkateri
Meraba, alurnya nalar di bawah jingga
Yang tak pernah mungkin terbayar
Mereka, mempertanyakan kapan, di mana
Bagaimana, apa, mengapa
Senangnya hati
Menembus sekat, memaksa takdir
Guna ingin terlihat hadir
Angannya, terus berlari tak mempelajari
Salah sesal di dalam diri
Menerka, arahnya lara berharap suka
Namun mujur tetaplah duka
Senangnya hati
Menembus sekat, memaksa takdir
Guna ingin terlihat hadir
Egosentris, mengambil peran di atas nalar
Yang tak pernah mungkin sepadan
Egosentris, mengambil peran di atas nalar
Yang tak pernah mungkin sepadan
Egosentris menjalar
Makna “Egosentris” tentang Keinginan untuk Terlihat
Jika melihat keseluruhan tema lagu, “Egosentris” dapat dimaknai sebagai gambaran manusia yang terlalu sibuk mengejar keinginannya sendiri. Ada dorongan untuk terus bergerak, mencari jawaban, serta berusaha mendapatkan sesuatu yang dianggap penting.
Keinginan tersebut kemudian berkaitan dengan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan. Seseorang tidak hanya ingin mencapai tujuan, tetapi juga ingin keberadaannya diperhatikan oleh orang lain.
Hal tersebut membuat “Egosentris” terasa seperti refleksi mengenai bagaimana manusia terkadang berusaha terlalu keras untuk menunjukkan bahwa dirinya hadir. Keinginan untuk diakui sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi dapat menjadi masalah ketika membuat seseorang mengabaikan keadaan di sekitarnya.
Ambisi yang Tidak Selalu Sejalan dengan Realitas
Salah satu sisi menarik dari “Egosentris” adalah gambaran mengenai ambisi yang terus berjalan meskipun pengalaman sebelumnya belum tentu memberikan pelajaran. Ada harapan yang dikejar, tetapi pada saat yang sama terdapat kesalahan dan penyesalan yang belum sepenuhnya dipahami.
Situasi tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu fokus pada tujuan sampai lupa melakukan introspeksi. Keinginan untuk mendapatkan hasil terkadang membuat proses belajar dari kegagalan menjadi terabaikan.
Pada akhirnya, ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membuat kenyataan terasa semakin mengecewakan. Apa yang dibayangkan sebagai sesuatu yang membahagiakan justru dapat berujung pada rasa sakit ketika hasilnya tidak sesuai harapan.
Ketika Ego Mengalahkan Nalar
Kata “egosentris” menjadi inti dari pesan lagu. Alkateri menggambarkan ego sebagai sesuatu yang dapat mengambil posisi lebih tinggi daripada nalar. Ketika hal tersebut terjadi, keputusan seseorang bisa lebih banyak dipengaruhi keinginan pribadi daripada pertimbangan yang lebih luas.
Makna ini membuat lagu “Egosentris” tidak hanya berbicara tentang sifat egois dalam hubungan dengan orang lain. Lagu tersebut juga dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang berpotensi terjebak dalam egonya sendiri.
Menariknya, Alkateri mengangkat persoalan tersebut dari pengalaman dan keresahan yang muncul selama pandemi. Menurut mereka, pandemi menjadi salah satu momen yang memperlihatkan bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya berjalan sendiri. Banyak persoalan justru membutuhkan kepedulian dan kerja sama.
“Egosentris” sebagai Ruang untuk Introspeksi
Di balik tema ego dan ambisi, lagu ini juga dapat dipahami sebagai ajakan untuk melakukan introspeksi. Seseorang perlu melihat kembali alasan di balik setiap keinginan dan keputusan yang diambil.
Apakah sesuatu benar-benar dilakukan karena menjadi tujuan pribadi, atau hanya karena ingin mendapatkan pengakuan? Apakah ambisi tersebut membawa seseorang menjadi lebih baik, atau justru membuatnya semakin jauh dari orang lain?
Pertanyaan seperti itu membuat “Egosentris” terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Terlebih di tengah kehidupan modern ketika pencapaian dan eksistensi seseorang semakin mudah diperlihatkan kepada publik melalui media sosial.
Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan jawaban sederhana mengenai bagaimana seseorang harus menghadapi egonya. “Egosentris” justru memberikan ruang bagi pendengar untuk melihat kembali diri sendiri dan menyadari bahwa ambisi perlu berjalan bersama empati.
Tentang Menerima Kekalahan dan Kegagalan
“Egosentris” juga dapat dimaknai sebagai cerita tentang menghadapi kegagalan. Tidak semua keinginan akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usaha. Ada kalanya seseorang sudah mencoba berbagai cara, tetapi tetap harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Di titik tersebut, menerima kegagalan menjadi bagian penting dari proses pendewasaan. Kekalahan tidak selalu berarti seluruh usaha menjadi sia-sia. Ada pengalaman yang bisa dipelajari, meskipun hasil akhirnya tidak seperti yang diinginkan.
Karena itu, “Egosentris” dapat menjadi teman bagi pendengar yang sedang berada dalam fase penuh pertanyaan. Lagu ini tidak memaksa seseorang untuk langsung bangkit dan melupakan kegagalan. Sebaliknya, ia memberikan ruang untuk mengakui rasa kecewa sekaligus memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Ego, Ambisi, dan Empati
Secara keseluruhan, “Egosentris” memiliki makna yang cukup luas. Lagu ini membicarakan ambisi manusia untuk mengejar keinginan pribadi, kebutuhan untuk terlihat, serta risiko ketika ego mulai mengalahkan nalar dan empati.
Alkateri memperlihatkan bahwa memiliki ambisi bukanlah sesuatu yang salah. Setiap orang membutuhkan keinginan untuk menentukan arah hidupnya. Namun, ambisi tersebut tetap perlu diseimbangkan dengan kemampuan melihat perspektif orang lain.
Pesan tersebut membuat “Egosentris” tidak hanya menjadi lagu tentang ego, tetapi juga tentang proses memahami diri sendiri. Ada kalanya seseorang perlu berhenti mengejar sesuatu, melihat kembali kesalahan, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana.
Pada akhirnya, “Egosentris” bukan hanya lagu tentang ego atau ambisi pribadi. Alkateri menghadirkan karya yang mengajak pendengar memahami bagaimana keinginan untuk berkembang perlu berjalan bersama kemampuan melihat keadaan sekitar.
Melalui lagu ini, Alkateri menunjukkan bahwa setiap orang memiliki fase ketika ingin membuktikan diri, mengejar sesuatu, atau mencari pengakuan. Namun, perjalanan tersebut juga membutuhkan introspeksi agar ambisi tidak membuat seseorang kehilangan empati.
Bagi kamu yang sedang berada dalam fase mengejar mimpi, menghadapi kegagalan, atau mencoba memahami diri sendiri, “Egosentris” bisa menjadi lagu yang menarik untuk didengarkan. Simak terus informasi musik dan cerita menarik lainnya hanya di Zetizen.



