Zetizen.com - Perjalanan musisi Indonesia ke panggung internasional tidak hanya tentang tampil di hadapan banyak penonton, tetapi juga memperkenalkan identitas musik kepada pendengar dari budaya berbeda. Hal ini dijalani Rimba, band asal Jakarta yang membawa karakter Pop Belantara ke sejumlah panggung di Jepang.
Rangkaian tur mereka berlangsung dari panggung intim di Tokyo hingga penampilan di hadapan sekitar 12.000 penonton di Kyoto Music Expo 2026. Melalui perpaduan melodi pop, aransemen eksperimental, dan lirik berbahasa Indonesia, Rimba memperlihatkan perjalanan musik yang melampaui batas geografis dan bahasa.
Perjalanan Rimba Dimulai dari Panggung Kecil di Tokyo
Rangkaian perjalanan Rimba di Jepang dimulai pada 24 September 2026 di Moon Romantic Aoyama, Tokyo. Venue dengan kapasitas sekitar 150 orang tersebut menjadi salah satu tempat pertama bagi Rimba untuk memperkenalkan musik mereka kepada penonton Jepang.
Dua hari kemudian, pada 26 September 2026, Rimba melanjutkan perjalanan dengan tampil di panggung Ringo Fest di Matsumoto. Penampilan tersebut dihadiri sekitar 300 penonton sebelum mereka mencapai panggung festival yang lebih besar di Kyoto.
Perjalanan dari venue berkapasitas kecil menuju festival dengan ribuan penonton menjadi bagian penting dari rangkaian tur ini. Setiap panggung memberikan ruang bagi Rimba untuk membawa karakter Pop Belantara kepada audiens dengan skala yang berbeda.
Rimba Tampil di Kyoto Music Expo 2026
Puncak perjalanan Rimba di Jepang berlangsung pada 10 Oktober 2026 saat mereka tampil di panggung utama Kyoto Music Expo 2026 di Umekoji Park, Kyoto. Festival tersebut menarik sekitar 12.000 penonton pada hari pertama, ketika Rimba mendapat kesempatan tampil bersama sejumlah musisi Jepang.
Kyoto Music Expo 2026 menjadi edisi spesial karena menandai perayaan 20 tahun festival sekaligus 30 tahun perjalanan Quruli, band rock alternatif asal Kyoto yang dibentuk pada 1996. Selama perjalanan kariernya, Quruli dikenal melalui eksplorasi musikal dengan berbagai elemen dalam karya mereka.
Pada hari pertama, Rimba tampil bersama Quruli, Homecomings, indigo la End, Macaroni Empitsu, Suchmos, dan Miyamoto Hiroji. Sementara itu, hari kedua pada 11 Oktober 2026 menghadirkan Quruli bersama ASIAN KUNG-FU GENERATION, Tamio Okuda, Hitsujibungaku, dan milet.
Kedua hari penyelenggaraan festival dilaporkan berlangsung dengan tiket terjual habis. Kesempatan tampil di panggung tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan internasional Rimba, sekaligus mempertemukan musik mereka dengan audiens yang lebih luas.
Lagu Berbahasa Indonesia Mendapat Sambutan Penonton Jepang
Salah satu momen berkesan dari penampilan Rimba di Kyoto Music Expo 2026 adalah respons penonton sepanjang pertunjukan. Menurut press release tur mereka, penonton terlihat mengayunkan tangan dan bertepuk tangan mengikuti irama lagu-lagu yang dibawakan.
Rimba memainkan sejumlah lagu, termasuk “Kampiun”, “Rimba Raya”, dan “Crave Me, Superstar”. Antusiasme penonton mencapai puncaknya ketika mereka menutup penampilan dengan “Diego Superego”. Pada bagian akhir tersebut, penonton disebut melompat bersama mengikuti musik.
Respons ini menjadi bagian menarik dari perjalanan Rimba di Jepang. Meskipun membawakan lagu berbahasa Indonesia, mereka tetap mampu menghadirkan suasana pertunjukan yang melibatkan penonton. Musik pun menjadi ruang pertemuan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pemahaman bahasa.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana melodi, ritme, dan aransemen dapat menjadi bagian dari cara musisi membangun hubungan dengan audiens lintas budaya. Bagi Rimba, sambutan di Kyoto menjadi salah satu pengalaman berkesan selama perjalanan internasional mereka.
Album Debut Rimba Hadir di Toko Rekaman Jepang
Perjalanan Rimba di Jepang tidak hanya berlangsung melalui pertunjukan langsung. Album debut mereka, Technicolor Meeting, juga tersedia dalam format vinyl di sejumlah toko rekaman Jepang, termasuk Tower Records, HMV, serta beberapa toko rekaman independen.
Album tersebut pertama kali dirilis secara digital secara independen pada 14 November 2025. Selanjutnya, Big Romantic Records merilis album tersebut dalam format vinyl pada 6 Maret 2026 dan mendistribusikannya secara global.
Kehadiran album di toko rekaman Jepang membuka kesempatan bagi pendengar untuk mengenal karya Rimba di luar panggung konser. Musik mereka dapat ditemukan melalui rilisan fisik yang tersedia di berbagai tempat, sehingga perjalanan karya mereka tidak terbatas pada jadwal tur.
Penampilan di festival dan distribusi album menjadi dua bagian dari perjalanan Rimba dalam memperluas jangkauan musik mereka. Keduanya memperlihatkan cara berbeda bagi musisi untuk memperkenalkan karya kepada pendengar di luar negeri.
Mengenal Rimba dan Karakter Musik Pop Belantara
Rimba merupakan band asal Jakarta yang terbentuk pada 2019. Grup ini terdiri dari Latasya Dinar sebagai vokalis, Vari Rivano pada gitar dan vokal latar, Marvin Muhammad pada bass dan vokal latar, serta Ivando Jeremy pada drum.
Melalui karakter Pop Belantara, Rimba mengembangkan musik pop yang melodis dengan pendekatan eksperimental. Dinamika yang beragam dan aransemen penuh kejutan menjadi bagian dari karakter musikal yang mereka bawa ke panggung.
Perjalanan di Jepang memberikan ruang bagi Rimba untuk memperkenalkan karakter musik tersebut kepada pendengar dari latar budaya berbeda. Mulai dari pertunjukan di venue kecil hingga festival besar, mereka membawa karya dengan lirik berbahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas musiknya.
Dari livehouse di Tokyo hingga panggung Kyoto Music Expo 2026, perjalanan Rimba memperlihatkan berbagai ruang yang dapat dijelajahi musisi Indonesia di luar negeri. Kehadiran mereka di festival dan toko rekaman Jepang menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan karya ke audiens internasional.
Menurut kamu, apakah semakin banyak musisi Indonesia yang berpeluang memperkenalkan karyanya ke panggung internasional melalui festival seperti Kyoto Music Expo? Ikuti terus informasi musik dan perkembangan musisi Indonesia hanya di Zetizen.com.





