
Rahabi mengatakan pendekatan tersebut kemudian dikembangkan bersama Reza hingga menghasilkan konsep yang dinilai sesuai dengan gaya komedi sang sutradara.
Dari proses tersebut, lahirlah film yang mencoba memadukan komedi absurd dengan cerita yang memiliki emotional core.
Reza sendiri mengatakan Harusnya Horror merupakan karya pertama mereka dalam konteks film. Ia juga menilai setiap penonton nantinya dapat merasakan pengalaman yang berbeda setelah menyaksikan film tersebut.
Menurut Reza, bahkan jika hanya lima orang yang menonton film ini, masing-masing bisa keluar dari bioskop dengan perasaan yang berbeda. Baginya, hal tersebut menjadi salah satu hasil terbaik yang dapat diberikan melalui film tersebut.
Jadi Film Pertama untuk Para Member AAAClan
Harusnya Horror juga menjadi debut akting layar lebar bagi seluruh member AAAClan.
Mereka adalah George Tierson (Jot), Yukatheo Glen Widjaja (Yuka), Garry Andriawan Ang (Garry), Teguh Prakoso (Tepe), Aldy Renaldy (Aloy), Ariyanto (Ibot), Niko Junius (Niko), dan Bravyson (Vicong). Film ini juga melibatkan Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Malka Rafasya, serta penampilan spesial Yoshua Marcellos atau Cellos.
Bagi para pemain, proses menuju film layar lebar tidak hanya dilakukan melalui kegiatan syuting. Mereka juga menjalani proses development, acting coach, workshop, hingga bootcamp untuk membangun karakter dan chemistry.
Dalam press conference, Ibot dan Niko menjelaskan bahwa mereka sempat mengikuti workshop serta bootcamp bersama. Kegiatan tersebut digunakan untuk membicarakan film, bertukar perasaan, dan memahami karakter masing-masing.
Proses bonding juga dilakukan di luar kegiatan formal. Para pemain mengaku sering berkomunikasi melalui chat, menelepon, bercanda, dan menghabiskan waktu bersama.
Kedekatan tersebut menjadi modal penting karena sebagian besar pemain memang sudah memiliki hubungan pertemanan sebelum terlibat dalam film.
Persahabatan Menjadi Jantung Cerita
Di balik unsur komedi dan horornya, Harusnya Horror juga membawa cerita tentang persahabatan. Hubungan antarkarakter dalam film digambarkan melalui berbagai situasi, mulai dari saling membantu, menghadapi konflik, hingga proses memaafkan dan berkorban.
Para pemain juga menilai hubungan pertemanan menjadi salah satu hal penting selama proses produksi. Kebersamaan yang dibangun melalui workshop, bootcamp, hingga aktivitas di luar proses syuting membantu mereka membangun chemistry sebagai sebuah kelompok.
Reina Vesca juga menyampaikan bahwa waktu bersama sahabat merupakan sesuatu yang berharga. Menurutnya, kesempatan untuk berkumpul dan semakin dekat dengan orang-orang terdekat tidak seharusnya dilewatkan begitu saja.







