zetizen

Film Sukma Tembus Netflix Top 10, Horor Psikologis Karya Baim Wong Jadi Perhatian

Movie
Film Sukma. Source: Youtube Cinema 21

Zetizen - Film Sukma mencatatkan capaian di platform streaming Netflix dengan menembus jajaran Top 10 dan sempat menempati posisi teratas di sejumlah wilayah. Pencapaian tersebut menempatkan film horor Indonesia ini di tengah persaingan ketat konten internasional.

Disutradarai Baim Wong, film ini menghadirkan horor psikologis yang berpusat pada teror supranatural akibat penemuan cermin kuno. Cerita mengikuti Arini, seorang ibu yang mencoba memulai hidup baru bersama keluarganya, namun justru terjebak dalam rangkaian kejadian misterius yang berkaitan dengan praktik ritual terlarang bernama ngalih raga.

Tema ritual pertukaran jiwa demi keabadian menjadi poros cerita, dengan karakter Ibu Sri Sukma Wiranegara yang diperankan Christine Hakim sebagai sosok sentral. Obsesinya terhadap kemudaan mendorong terjadinya teror yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menekan kondisi psikologis para tokoh di sekitarnya.

Deretan aktor papan atas memperkuat film ini. Luna Maya tampil sebagai Arini dengan pendekatan akting yang minim riasan, sementara Oka Antara dan Fedi Nuril mengisi peran pendukung yang terikat pada konflik masa lalu dan relasi keluarga. Kehadiran mereka membangun ketegangan yang berkembang perlahan, bukan sekadar mengandalkan efek kejut.

Selain narasi, kekuatan film Sukma juga terletak pada penulisan skenario yang digarap Ratih Kumala. Unsur drama keluarga dipadukan dengan riset budaya klenik lokal, menghasilkan cerita yang menyoroti ketakutan manusia terhadap penuaan dan hasrat mempertahankan kekuasaan atas tubuh dan usia.

Proses pengambilan gambar dilakukan di sejumlah rumah tua bersejarah di Yogyakarta, yang memperkuat atmosfer muram dan menekan. Pilihan visual tersebut mendukung pendekatan horor psikologis yang diusung film ini.

Keberhasilan film Sukma menembus jajaran teratas Netflix memperlihatkan bahwa horor Indonesia tidak hanya memiliki daya tarik domestik, tetapi juga mampu bersaing di platform global dengan pendekatan cerita yang lebih subtil dan reflektif.