zetizen

Film Pelangi di Mars Hadirkan Petualangan Sci-Fi Keluarga dengan Visual Futuristik

Movie
Pelangi di Mars. Source: IMDb

Film ini menggunakan teknologi Extended Reality (XR) di Studio DossGuavaXR. Teknologi tersebut memungkinkan latar digital seperti permukaan Mars ditampilkan secara real-time, sehingga aktor dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan virtual saat proses syuting berlangsung.

Pendekatan ini membuat visual terasa lebih imersif dan membantu aktor membangun emosi secara lebih natural dibanding hanya mengandalkan green screen konvensional.

Meski begitu, tim produksi menegaskan bahwa teknologi bukan menjadi daya tarik utama.

Menurut mereka, kekuatan cerita dan kedekatan emosional tetap menjadi fondasi film ini.

Disiapkan Jadi IP Jangka Panjang, Bukan Sekadar Film Lebaran

Tak hanya berhenti sebagai film layar lebar, Mahakarya Pictures juga menyiapkan Pelangi di Mars sebagai intellectual property (IP) jangka panjang.

Produser Dendi Reynando mengungkapkan keresahannya terhadap dominasi karakter dan IP asing di pasar Indonesia. Ia berharap Pelangi dapat menjadi alternatif karakter lokal yang bisa berkembang ke berbagai lini, mulai dari sekuel film, serial, hingga produk turunan seperti mainan dan merchandise.

“Kita dijajah sama IP asing. Enggak salah. Tapi kita mau film ini jadi alternatif, bahwa Indonesia juga bisa,” ujarnya.

Dengan rencana pengembangan tersebut, Pelangi di Mars diposisikan bukan hanya sebagai tontonan Lebaran 2026, tetapi sebagai fondasi dunia cerita yang bisa tumbuh dalam jangka panjang.

Halaman: