
Zetizen - Film Pelangi di Mars resmi memperkenalkan trailer perdananya dalam konferensi pers di Jakarta pada 13 Februari 2026. Diproduksi Mahakarya Pictures, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen Lebaran.
Di tengah dominasi film horor di layar lebar, Pelangi di Mars hadir sebagai film petualangan fiksi ilmiah untuk anak dan keluarga. Proyek ini dikembangkan selama lima tahun dan memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR), menjadikannya salah satu produksi film anak paling ambisius dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya menghadirkan alternatif tontonan keluarga yang jarang disentuh industri perfilman nasional.
Film Anak Sci-Fi yang Masih Jarang di Layar Lebar Indonesia
Produser Dendi Reynando menilai film anak dan keluarga di Indonesia masih berada dalam kondisi “under supply”. Menurutnya, pilihan tontonan untuk anak belum sebanyak genre lain, padahal segmen pasarnya besar.
“Pelangi di Mars lahir karena menurut saya film untuk anak dan keluarga masih sangat terbatas,” ujarnya.
Ia melihat kebutuhan akan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun imajinasi dan rasa percaya diri anak-anak Indonesia. Dengan mengambil latar luar angkasa dan Planet Mars, film ini mencoba keluar dari pola cerita yang selama ini lebih banyak berkutat pada drama keluarga konvensional atau komedi ringan.
Pilihan genre fiksi ilmiah juga menjadi langkah berani, mengingat sci-fi masih tergolong jarang diproduksi secara serius di industri film nasional.
Kisah Anak yang Lahir di Mars dan Punya Misi untuk Bumi
Cerita film ini berpusat pada Pelangi, diperankan Messi Gusti, yang menjadi manusia pertama lahir di Planet Mars. Ia tumbuh di lingkungan ekstrem setelah terdampar bersama ibunya, Pratiwi.
Di tengah lanskap Mars yang tandus dan penuh risiko, Pelangi melanjutkan misi ibunya untuk mencari mineral langka bernama Zeolith Omega. Mineral tersebut diyakini mampu menjadi solusi atas krisis air bersih yang melanda Bumi.
Namun konflik dalam film ini tidak semata soal penyelamatan planet. Pelangi juga memiliki misi personal: menemukan ayahnya yang terpisah darinya.
Petualangan itu ditemani sejumlah robot dengan karakter unik yang diisi suara oleh Kristo Immanuel, Bimoky, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya. Kehadiran robot-robot ini memberi warna humor sekaligus dinamika emosional dalam perjalanan Pelangi.
Sutradara Upie Guava mengatakan pendekatan film ini dibuat tanpa kesan menggurui.
“Anak-anak tidak suka digurui,” katanya.
Karena itu, nilai-nilai tentang keberanian, keluarga, dan kepedulian lingkungan disampaikan melalui petualangan dan dialog yang ringan.
Digarap Lima Tahun dan Menggunakan Teknologi XR
Ambisi film ini juga terlihat dari proses produksinya. Pelangi di Mars dikembangkan selama lima tahun, termasuk tahap riset visual dan pengembangan dunia (world-building).





