zetizen

Sinopsis Film Na Willa: Kisah Hangat Anak Kecil di Surabaya Era 1960-an

Movie
Na Willa. Source: IMDb

Zetizen - Rumah produksi Visinema Studios resmi merilis trailer film Na Willa, karya terbaru sutradara Ryan Adriandhy setelah sukses animasi Jumbo. Film ini menjadi debut live-action Ryan dan dijadwalkan tayang pada Lebaran 2026.

Diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo, Na Willa hadir sebagai drama keluarga ramah anak yang mengangkat dunia imajinasi bocah kecil di Surabaya era 1960-an. Film ini dibintangi Luisa Adreena sebagai Willa, bersama Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy.

Sinopsis Na Willa: Dunia Kecil yang Perlahan Berubah

Na Willa mengisahkan Willa (Luisa Adreena), gadis kecil berusia lima hingga enam tahun yang percaya bahwa gang tempat ia tinggal di Surabaya adalah dunia paling sempurna dan magis. Di sana, lagu dari radio terasa hidup, kios langganan selalu penuh kejutan, dan setiap hari adalah petualangan bersama teman-temannya. Dunia Willa sederhana, tapi penuh keajaiban.

Namun perubahan datang tanpa bisa dicegah. Ketika sahabatnya mengalami kecelakaan dan satu per satu teman bermainnya mulai masuk sekolah, dunia kecil Willa terasa semakin sepi. Ia pun bertekad ikut masuk TK dengan harapan semuanya bisa kembali seperti dulu.

Sayangnya, sekolah justru menghadirkan dunia baru yang terasa asing, penuh aturan, batasan, dan rasa tidak dimengerti. Dari situlah Willa perlahan belajar bahwa tumbuh berarti berdamai dengan perubahan. Bahwa keajaiban tidak selalu hilang, hanya berpindah tempat.

Perpaduan Live-Action dan Animasi

Menariknya, Ryan Adriandhy memadukan elemen live-action dengan animasi dalam film ini. Animasi hadir untuk menggambarkan sudut-sudut imajinasi Willa yang tak terbatas.

Pendekatan ini menjadi evolusi dari karya animasi Ryan sebelumnya, Jumbo, yang sukses besar di bioskop. Jika di animasi semua bisa dikontrol per frame, di live-action ia harus berkolaborasi langsung dengan aktor cilik di lokasi nyata.

Ryan menekankan bahwa menyutradarai film anak bukan hanya soal teknis produksi, tetapi tentang menjaga sudut pandang anak-anak, bagaimana cara mereka melihat sekolah sebagai gedung yang terasa “wow” dan besar, yang mungkin tampak kecil saat dewasa.

Syuting Ramah Anak: Wajib Tidur Siang dan Bebas Rokok

Karena melibatkan banyak aktor cilik, tim produksi menerapkan sejumlah aturan unik yang jarang ditemui di industri film Indonesia. Produser Anggia Kharisma mengungkapkan bahwa ruang tunggu anak didesain seperti area bermain lengkap dengan mandi bola, perosotan, dan tenda kecil agar mereka tidak bosan saat menunggu giliran syuting.

Yang paling unik, seluruh kru dan pemain wajib tidur siang 30 menit setelah jam makan siang. Aturan ini dibuat demi menjaga stamina hingga malam hari. Lokasi syuting juga sepenuhnya bebas asap rokok, baik konvensional maupun elektrik. Selain itu, tim konsumsi mengurangi makanan tinggi gula untuk mencegah sugar rush pada anak-anak selama proses produksi.

Kebijakan ini disebut sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi pemain cilik.

Soundtrack dari Laleilmanino

Untuk soundtrack, Visinema kembali menggandeng Laleilmanino. Setelah sukses lewat lagu “Selalu Ada di Nadimu” di Jumbo, kali ini mereka menghadirkan lagu berjudul “Sikilku Iso Muni” (yang berarti “kakiku bisa berbunyi”). Lagu tersebut terinspirasi dari salah satu bab dalam novel Na Willa dan akan menjadi elemen penting dalam perjalanan emosional karakter utama.

Didedikasikan untuk Anak Indonesia

Ryan Adriandhy secara terbuka menyatakan bahwa Na Willa didedikasikan untuk anak-anak dan keluarga Indonesia. Ia menilai masih sedikit film yang benar-benar dibuat untuk penonton seusia anak-anak.

Baginya, film bisa menjadi pengalaman yang membentuk cita-cita. Ia sendiri mengaku terinspirasi menjadi sutradara setelah menonton film di bioskop saat berusia empat tahun. Harapannya, Na Willa bisa membuka ruang lebih luas bagi film ramah anak di Indonesia.

Kenapa Na Willa Layak Ditunggu?

Na Willa bukan film penuh aksi atau konflik besar. Kekuatan utamanya ada pada kesederhanaan cerita dan ketulusan sudut pandang anak-anak.

Halaman: