zetizen

7 Cara Menerapkan Underconsumption Core, Tren Gaya Hidup Hemat yang Makin Populer di Media Sosial

Sports And Health
Ilustrasi gaya hidup Underconsumption Core yang mengutamakan penggunaan barang secara bijak dan mengurangi konsumsi berlebihan. Sumber: pexels

2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Memperbaiki barang yang masih layak digunakan lebih hemat dibanding langsung membeli penggantinya. Sumber: pexels

Media sosial membuat seseorang sangat mudah tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.Label seperti best seller, viral, atau wajib punya sering kali memicu keputusan belanja secara spontan. Karena itu, pendukung Underconsumption Core menyarankan untuk berhenti sejenak sebelum melakukan pembayaran.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya muncul karena rasa ingin mengikuti tren. Jika masih ragu, tunggu selama 24 hingga 48 jam sebelum memutuskan membeli.Cara sederhana tersebut terbukti membantu banyak orang mengurangi pembelian impulsif. Tidak sedikit yang akhirnya menyadari keinginan membeli perlahan menghilang setelah beberapa hari.

3. Rawat dan Perbaiki Barang yang Masih Layak Digunakan

Ilustrasi Rawat dan Perbaiki Barang yang Masih Layak Digunakan. Sumber: Pexels

Kerusakan kecil tidak selalu berarti sebuah barang harus diganti.Pakaian yang sobek masih bisa dijahit, resleting tas dapat diganti, sementara sepatu yang solnya terlepas sering kali cukup diperbaiki di tukang servis dengan biaya jauh lebih murah dibanding membeli baru.

Kebiasaan memperbaiki barang mulai kembali diminati karena dianggap lebih ramah lingkungan sekaligus membantu menghemat pengeluaran. Barang lama pun tetap bisa tampil menarik selama dirawat dengan baik.Selain mengurangi biaya belanja, kebiasaan ini juga memperpanjang umur pakai produk sehingga limbah rumah tangga dapat ditekan.

4. Jangan Mudah Terpengaruh Tren Belanja di Media Sosial

Mengurangi paparan konten belanja di media sosial dapat membantu menghindari pembelian impulsif. Sumber: pexels

Salah satu tantangan terbesar saat menerapkan Underconsumption Core adalah derasnya promosi yang muncul setiap kali membuka media sosial. Video unboxing, haul, hingga rekomendasi influencer sering kali membuat seseorang merasa perlu membeli barang yang sebenarnya sudah dimiliki.Karena itu, semakin banyak kreator yang mengampanyekan gerakan deinfluencing. Alih-alih mendorong pengikut membeli produk baru, mereka justru mengingatkan bahwa tidak semua barang viral layak masuk keranjang belanja.

Mengurangi paparan konten konsumtif bukan berarti berhenti menikmati media sosial. Sebaliknya, langkah ini membantu seseorang mengambil keputusan belanja dengan lebih rasional tanpa dipengaruhi rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO).

Halaman: