Zetizen.com - Pernah melihat kacamata dengan bentuk seperti penyok, berukuran terlalu besar, bahkan terlihat seolah belum selesai dibuat? Maison Margiela x Gentle Monster justru menjadikan desain yang tidak biasa tersebut sebagai daya tarik utama dalam koleksi kolaborasi terbarunya yang hadir pada 29 Oktober 2026.
Mengusung konsep Deconstruction, koleksi ini menghadirkan 68 desain yang terdiri dari 43 sunglasses dan 25 optical frames. Mulai dari frame terdistorsi, proporsi ekstrem, material kulit, hingga detail jahitan yang seolah melayang, semuanya dibuat untuk membongkar bentuk kacamata konvensional. Lantas, kenapa desain yang terlihat tidak sempurna justru menjadi daya tariknya?
1. Maison Margiela x Gentle Monster Bikin Frame Seperti “Penyok”
Sekilas, beberapa frame terlihat seperti tidak sengaja tertekan atau berubah bentuk. Garis yang biasanya presisi justru dibuat terdistorsi dan jauh dari kesan sempurna.
Tampilan tersebut bukan kesalahan produksi. Bentuk yang terasa “rusak” menjadi bagian dari konsep deconstruction fashion yang dibawa Maison Margiela x Gentle Monster.
Deconstruction sendiri memainkan sesuatu yang sudah kita kenal dengan cara membongkar struktur atau bentuk konvensionalnya. Dalam koleksi ini, objek sesederhana kacamata dibuat terasa asing tanpa benar-benar kehilangan fungsi dasarnya.
Menariknya, detail seperti ini memperlihatkan bahwa fashion tidak selalu harus mengejar tampilan clean dan polished. Sesuatu yang terlihat tidak sempurna justru bisa memiliki karakter lebih kuat.
Kita akhirnya tidak hanya melihat kacamatanya. Mata justru otomatis mencoba mencari tahu bagian mana yang sengaja dibuat “salah”.
2. Oversized Sekarang Sampai Hampir Menutupi Wajah
Kacamata oversized sebenarnya sudah berkali-kali muncul dalam siklus fashion. Namun, Maison Margiela x Gentle Monster 2026 mendorong ukurannya lebih jauh.
Sejumlah frame hadir dengan volume besar yang membungkus area mata dan sebagian wajah seperti mask. Bentuknya membuat kacamata tidak lagi terlihat seperti aksesori kecil yang hanya melengkapi outfit.
Justru sebaliknya. Begitu dikenakan, frame bisa menjadi bagian pertama yang tertangkap mata.
Konsep resminya juga memainkan ide menyembunyikan wajah dari pandangan luar sambil mempertahankan bidang pandang bagi pemakainya. Ada permainan antara ingin terlihat dan ingin bersembunyi dalam satu objek.
Di titik ini, tren kacamata semakin dekat dengan konsep statement piece. Bukan lagi sekadar mencari frame yang aman dipakai, tetapi seberapa jauh sebuah aksesori bisa mengubah karakter keseluruhan look.
3. Ada Kacamata yang Seolah Punya “Kulit Kedua”
Kalau frame penyok belum cukup membuat koleksi ini terasa unik, detail berikutnya datang dari material yang membungkus sebagian desain.
Beberapa frame oval dan cat-eye dibalut kulit mengikuti struktur kacamatanya. Maison Margiela menyebut pendekatan tersebut sebagai Second Skin, yang membuat frame seolah memiliki lapisan kulit kedua.
Dari kejauhan, siluetnya masih mudah dikenali sebagai kacamata. Namun, saat diperhatikan lebih dekat, tekstur kulit membuat benda yang familiar itu terasa sedikit asing.
Permainan material seperti ini menjadi salah satu bagian menarik dari kacamata Maison Margiela. Alih-alih menciptakan bentuk yang sepenuhnya baru, desainnya mengubah cara kita melihat benda yang sudah sangat biasa.
Mungkin itu juga alasan konsep deconstruction terasa cocok di sini. Keunikannya tidak datang dari sesuatu yang sepenuhnya asing, melainkan dari sesuatu yang kita kenal tetapi dibuat sedikit “tidak benar”.
4. Empat Jahitan Kecil Justru Dibuat Seolah Melayang
Di tengah frame berukuran besar, ada detail yang jauh lebih kecil tetapi mudah dikenali penggemar Maison Margiela. Empat jahitan putih khas rumah mode tersebut ikut muncul pada gagang kacamata.
Pada beberapa frame tipis, detail itu tidak hanya ditempelkan begitu saja. Jahitannya dibuat seperti melayang di bagian tepian frame.
Hasilnya cukup kontras dengan kecenderungan branding fashion yang sering mengandalkan logo besar. Maison Margiela justru menggunakan empat jahitan sederhana sebagai identitas visualnya.
Kamu mungkin tidak langsung melihatnya dari kejauhan. Namun, begitu menyadari detail itu ada, bagian kecil tersebut justru sulit diabaikan.
Di saat bentuk kacamatanya dibuat ekstrem, identitas brand justru muncul lewat detail yang sangat sederhana.
5. Keanehan Maison Margiela x Gentle Monster Keluar dari Frame
Konsep deconstruction ternyata tidak berhenti pada desain kacamata. Dunia yang sama diteruskan ke film kampanye yang digarap seniman sekaligus sutradara Alex Prager. Ceritanya mengikuti seorang perempuan yang hanya punya waktu sepuluh menit untuk bertemu seseorang, sebelum perjalanannya membawa penonton melewati kota yang terus berubah dengan karakter-karakter berbeda yang mengenakan koleksi tersebut.
Visualnya terasa familiar, tetapi ada sesuatu yang sedikit ganjil. Situasi sehari-hari dibuat seperti tidak sepenuhnya mengikuti aturan dunia nyata, mirip dengan frame yang sengaja dibuat keluar dari bentuk “normal”.
Konsep tersebut kemudian keluar dari layar lewat pop-up di Seoul, Tokyo, Shanghai, Beijing, Bangkok, Kuala Lumpur, Melbourne, dan Paris. Bentuk irregular dan permainan material meneruskan nuansa unfinished dari kacamatanya ke dalam ruang fisik.
Di sinilah Maison Margiela x Gentle Monster terasa menarik untuk dibahas. Bukan hanya karena menghadirkan puluhan frame baru, melainkan karena kolaborasi ini membuat sesuatu yang sangat biasa seperti kacamata terasa berbeda. Frame penyok, ukuran yang hampir menutupi wajah, kulit yang membungkus struktur, hingga empat jahitan yang seolah melayang menunjukkan bahwa ketidaksempurnaan juga bisa menjadi daya tarik desain.
Pada akhirnya, fashion tidak selalu harus menghadirkan sesuatu yang cantik atau sempurna. Terkadang, desain yang sedikit aneh justru membuat kita berhenti lebih lama untuk memperhatikannya. Kalau kamu punya kesempatan mencoba koleksi ini, model mana yang paling menarik perhatian: frame oversized, desain “penyok”, atau Second Skin? Baca informasi dan artikel menarik lainnya seputar fashion dan tren gaya hidup hanya di Zetizen.com!





