Zetizen
Advertisement

5 Kolaborasi Fashion dan Seni pada 2026, dari Mona Lisa hingga Karya Seniman yang Bisa Dikenakan

M
Sabtu, 17 Okt 2026•8 Jam Lalu
5 Kolaborasi Fashion dan Seni pada 2026, dari Mona Lisa hingga Karya Seniman yang Bisa Dikenakan
Marine Serre x Musée du LouvreSumber: Zoe Magazine
Advertisement

 

Zetizen.com - Ada yang membayangkan Mona Lisa hadir di atas pakaian, ada pula yang mengubah potongan denim menjadi karya seni lewat teknik quilting. Pertemuan seni dan fashion kini menawarkan cara baru untuk menikmati kreativitas, bukan hanya melalui lukisan di museum, tetapi juga lewat busana dan aksesori yang dikenakan sehari-hari.

Pada 2026, sejumlah brand fashion berkolaborasi dengan museum dan seniman untuk menghadirkan interpretasi baru terhadap karya seni, ilustrasi, hingga tradisi tekstil. Mulai dari Marine Serre x Musée du Louvre hingga MARC JACOBS x tiga seniman Jepang, berikut lima kolaborasi yang menarik untuk diperhatikan.

1. Marine Serre x Musée du Louvre, saat Mona Lisa meninggalkan bingkai

Mona Lisa bukan lagi hanya potret yang dikenal dari balik kaca museum. Melalui kolaborasi Marine Serre dan Musée du Louvre, ikon seni karya Leonardo da Vinci tersebut menjadi inspirasi bagi koleksi fashion yang memadukan warisan sejarah dengan pendekatan desain kontemporer.

Kolaborasi ini berkaitan dengan koleksi Fall-Winter 2026 Marine Serre. Rumah mode tersebut menghadirkan lima siluet couture yang mengeksplorasi hubungan antara seni, arsip museum, dan keterampilan menjahit.

Salah satu pendekatannya adalah menyusun ulang fragmen visual Mona Lisa menjadi komposisi yang mengikuti bentuk tubuh, sementara koleksi kapsul komersialnya terdiri atas tiga produk yang memanfaatkan pendekatan upcycling.

Pendekatan tersebut membuat karya klasik terasa berbeda ketika dipindahkan ke medium pakaian. Alih-alih sekadar mencetak potret terkenal, Marine Serre mengolah kembali citra tersebut melalui bahasa desainnya sendiri.

Hal yang paling menarik adalah pertemuan antara sejarah seni dan gagasan penggunaan ulang material (upcycling). Kolaborasi ini menunjukkan bahwa karya yang telah dikenal selama berabad-abad masih bisa memunculkan interpretasi baru ketika bertemu dengan kreativitas desainer masa kini.

2. Ralph Lauren x Gee’s Bend, tradisi quilting yang menemukan bentuk baru

Potongan kain yang disusun menjadi pola geometris dapat menyimpan cerita panjang tentang komunitas dan tradisi. Hal inilah yang menjadi inti kolaborasi Ralph Lauren dengan seniman tekstil Gee’s Bend, Alabama, Claudia Pettway Charley dan Loretta Pettway Bennett, yang diluncurkan pada 28 Juli 2026.

Koleksi Ralph Lauren x Gee’s Bend merupakan bagian dari program Artist in Residence. Tradisi quilting komunitas tersebut dikenal melalui komposisi warna yang berani, bentuk abstrak, dan penggunaan kain yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ralph Lauren menerjemahkan karakter tersebut melalui koleksi pakaian dan produk rumah tangga. Kolaborasi ini juga memperlihatkan bahwa seni tidak harus berasal dari galeri atau lukisan berbingkai. Teknik kerajinan tekstil dapat memiliki nilai artistik tersendiri, terutama ketika desainnya membawa sejarah dan pengalaman komunitas yang menciptakannya.

3. MOS MOSH x Isabel Bernat, ilustrasi yang hadir melalui bordir

Tidak semua karya seni harus mendominasi permukaan pakaian agar terlihat menonjol. Dalam kolaborasi MOS MOSH dengan seniman abstrak asal Jerman, Isabel Bernat, garis ekspresif dan figur perempuan abstrak diterjemahkan menjadi bordir serta detail dekoratif pada sejumlah desain busana.

Kolaborasi tersebut diumumkan pada Juni 2026 dan kemudian dijelaskan lebih lanjut melalui kanal resmi MOS MOSH pada September. Pendekatannya mempertemukan gaya visual Bernat dengan desain pakaian yang menekankan potongan, kenyamanan, dan detail pengerjaan. 

Bernat menggambarkan hubungan seni dan fashion melalui gagasan bahwa karya seni dapat dipajang di dinding, sedangkan fashion dikenakan. Menurut Bernat, keduanya dapat menyampaikan cerita, membangkitkan emosi, dan merefleksikan identitas.

Gagasan itu terlihat dalam pilihan bordir yang menyatu dengan pakaian, bukan sekadar menjadi gambar tambahan. Bagi pencinta fashion yang menyukai detail halus, pendekatan ini memperlihatkan bagaimana karya seorang seniman dapat hadir dalam penampilan sehari-hari tanpa harus kehilangan karakter visualnya.

4. CAMILLA x The Met, karya museum dalam bentuk wearable art

Museum menyimpan karya yang dapat menginspirasi lebih dari sekadar pameran. Melalui kolaborasi CAMILLA dengan The Metropolitan Museum of Art atau The Met, motif yang terinspirasi dari koleksi seni museum diterjemahkan ke dalam produk fashion dengan karakter visual yang kuat.

Kolaborasi The Met x CAMILLA menghadirkan beragam produk, termasuk pakaian dan aksesori. Koleksi yang dipasarkan melalui kanal resmi CAMILLA memperlihatkan bagaimana motif artistik dapat dipadukan dengan karakter desain brand yang kaya warna dan detail. Koleksi resmi The Met x CAMILLA

Salah satu daya tarik pendekatan ini adalah cara motif dan pengerjaan tekstil menjadi bagian penting dari penampilan. Pada produk fashion dengan detail bordir atau manik-manik, nilai visual tidak hanya ditentukan oleh gambar, tetapi juga oleh tekstur dan proses pembuatannya.

Kolaborasi ini relevan bagi pembaca yang tertarik pada konsep wearable art, yaitu seni yang diwujudkan melalui benda yang dapat dikenakan. Busana menjadi medium untuk membawa inspirasi dari dunia seni ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

5. MARC JACOBS x Tiga Seniman Jepang, tas yang menjadi kanvas kreatif

Tas biasanya dipilih berdasarkan bentuk, fungsi, dan kemampuannya melengkapi outfit. Namun, kolaborasi MARC JACOBS dengan seniman Jepang Yu Miyama, YOUI, dan SHOGO SEKINE memperlihatkan bagaimana aksesori dapat menjadi medium ekspresi visual yang lebih personal.

Kolaborasi tersebut hadir dalam rangkaian kegiatan pop-up Fall 2026 di Jepang. Berdasarkan pengumuman MARC JACOBS Japan, produk yang ditampilkan mencakup The Leather Tote Bag Medium dan The Snapshot DTM dengan interpretasi dari masing-masing seniman.

Penjualan eksklusif berlangsung di Isetan Shinjuku dan Hankyu Umeda pada Agustus 2026. Ketiganya membawa pendekatan visual yang berbeda ke produk ikonis brand tersebut. Perbedaan gaya ini membuat tas tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga sebagai ruang bagi identitas artistik masing-masing kreator.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa kolaborasi seni dan fashion tidak selalu harus melibatkan pakaian dari ujung kepala hingga kaki. Sebuah tas pun dapat menjadi titik fokus penampilan ketika desainnya menggabungkan fungsi, karakter brand, dan gagasan kreatif seorang seniman.

Mengapa kolaborasi fashion dan seni semakin menarik untuk diikuti?

Pada akhirnya, kolaborasi fashion dan seni pada 2026 memperlihatkan bahwa kreativitas bisa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari interpretasi ulang karya klasik hingga pelestarian tradisi tekstil. Setiap kolaborasi membawa karakter berbeda yang membuat busana dan aksesori memiliki cerita di balik desainnya.

Buat kamu yang suka mengeksplorasi gaya berpakaian, kolaborasi ini bisa menjadi inspirasi untuk melihat fashion dari sudut pandang yang lebih luas. Sebab, outfit bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bisa menjadi cara untuk mengekspresikan identitas dan kreativitas.

Ikuti terus informasi seputar fashion, tren, dan gaya hidup menarik lainnya hanya di Zetizen.com!

Editor:medita restu
Advertisement

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?

602 pembaca telah memberikan tanggapan

Related Article

See All
Advertisement