
Kenapa Morfem Masih Menarik untuk Generasi Sekarang?
Jimi Multhazam menjadi salah satu sosok penting di balik karakter musik Morfem yang kuat. Sumber: @Instagram @Morfem_band
Jawabannya ada pada kombinasi antara musik dan pengalaman. Morfem bukan hanya menawarkan lagu untuk didengarkan menggunakan earphone, tetapi juga musik yang terasa cocok untuk dibawa ke ruang pertunjukan.
Hal tersebut terlihat ketika Morfem tampil di Magnumotion Loud Fest 2026 di Sentul Otopark, Bogor, pada 22 Agustus 2026. Mereka membawakan sejumlah lagu seperti Megah Diterima, Planet Berbeda, Onar, Senjakala Cerita, Jungkir Balik, Kuning, hingga Rayakan Pemenang. Penonton juga diajak merapat ke area moshpit, memperlihatkan bagaimana energi musik Morfem tetap bekerja kuat di panggung festival.
Momen seperti itu menjadi pengingat bahwa musik alternatif tidak selalu harus mengikuti formula yang sedang populer. Ada pendengar yang justru datang karena ingin merasakan suara gitar yang keras, lirik yang dekat, dan atmosfer konser yang lebih liar.
Jimi Multhazam dan Karakter yang Membuat Morfem Berbeda
Sosok Jimi Multhazam juga menjadi bagian penting dari identitas Morfem. Jimi dikenal sebagai vokalis sekaligus penulis lirik dan lagu, selain kiprahnya bersama The Upstairs dan proyek solonya sebagai Jimi Jazz. Ia juga merupakan seorang perupa yang aktif berkarya di dunia seni rupa.
Latar belakang tersebut ikut memberi warna pada cara Morfem membangun identitas. Ada perpaduan antara musik, visual, lirik, dan kultur underground yang membuat Morfem tidak mudah dipisahkan dari karakter personal para personelnya.
Bahkan ketika membawakan lagu milik musisi lain, mereka tetap memperhatikan etika bermusik. Saat Morfem mengaransemen ulang lagu Kuning milik Rumah Sakit, Jimi Multhazam menyampaikan bahwa dirinya meminta izin kepada pencipta lagu sebelum membawakannya.
Morfem Bukan Sekadar Nostalgia
Mendengarkan Morfem hari ini bukan sekadar membuka kembali musik dari masa lalu. Kehadiran mereka di berbagai panggung pada 2026 menunjukkan bahwa band ini masih aktif dan mampu menjangkau pendengar dari berbagai generasi.
Justru di tengah kebiasaan mendengarkan musik melalui algoritma, Morfem menawarkan sesuatu yang tidak mudah digantikan. Ada karakter, cerita, kebisingan, dan energi panggung yang membuat musik mereka terasa lebih personal bagi pendengarnya.
Bagi anak muda yang ingin mengenal musik alternatif Indonesia, Morfem bisa menjadi salah satu pintu masuk yang menarik. Mulai dari Jungkir Balik, Binar Wajah Sebaya, atau lagu-lagu lain dalam katalog mereka, pendengar bisa menemukan bagaimana sebuah band yang tumbuh dari skena underground tetap mampu bertahan dan menemukan ruang baru.
Pada akhirnya, kekuatan Morfem bukan hanya terletak pada suara gitar yang keras atau lirik yang penuh keresahan. Mereka menjadi bukti bahwa musik dengan identitas kuat tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Simak terus informasi musik terbaru dan perkembangan skena independen Indonesia hanya di Zetizen.







