
“Terus terang saja, aku sendiri kurang tahu pasti. Selama ini aku mencoba mengerti hubunganku dengan PKI itu tidak gampang.”
Lalu, ketika Yu Mi menegaskan pada Bawuk bahwa hubungan itu sebenarnya sederhana karena ia mengikuti suaminya dan Bawuk mengakuinya, “Satu-satunya hal yang terang bagiku hanya hubunganku dengan Hassan.”
Pandangan ini kembali terlihat Ketika Yu Mi menanyakan apakah ia tidak merasa bersalah karena berkontribusi dengan PKI yang aktivitasnya dianggap membahayakan negara. Bawuk menjawab dengan refleksinya terhadap kehidupan sendiri.
“Dari sudut keluarga ini, perkawinanku dengan Mas Hassan sudah sejak semua salah. Kalau saat itu aku mau saja kawin dengan seorang akademis yang baik atau perwira dan tidak menikahi seorang komunis, revolusioner, dan yang sekarang berontak lagi, bukankah semuanya sudah beres?”
Kutipan tersebut menggambarkan Bawuk sadar akan konsekuensi dari keputusan yang ia ambil. Bawuk tetap bertahan, bahkan ketika harus kehilangan suami, meninggalkan anak-anaknya, dan hidup dalam pelarian.
Umar Kayam menuliskan takdir hidup Sri Sumarah yang sesuai dengan filosofi "sumarah" yang melekat pada namanya, tapi Bawuk justru menunjukkan jalan hidup yang berbeda. Ia tidak hidup dalam kepasrahan, melainkan dalam kesetiaan terhadap pilihannya.
Meski harus menghadapi kehilangan, pengucilan, hingga hidup dalam pelarian, Bawuk tetap bertahan pada keyakinannya. Dengan cara yang berbeda-beda, makna nama Bawuk seolah mencerminkan sosok perempuan yang berani menjalani konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Melalui Novelet Sri Sumarah dan Bawuk, Umar Kayam menjelaskan bahwa nama dalam budaya Jawa bukan sekadar panggilan, melainkan sebuah harapan dan nilai makna hidup yang diwariskan kepada seseorang.
Sri dan Bawuk sama-sama memperlihatkan keteguhan dalam menghadapi takdir hidupnya. Dapat kita pahami bahwa nama tidak selalu menentukan takdir, tetapi sering kali menyimpan filosofi yang tercermin dalam kehidupan kehidupannya.







