
Zetizen - Dalam budaya Jawa, nama bukan sekadar identitas diri. Di balik sebuah nama sering tersimpan doa, harapan, bahkan nilai-nilai kehidupan yang ingin diwariskan orang tua kepada anaknya. Hal tersebut diperlihatkan dalam novelet Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam.
Melalui dua tokoh perempuan yang memiliki latar belakang dan pilihan hidup berbeda, Umar Kayam tidak hanya menggambarkan tokoh perempuan Jawa di tengah tuntutan sosial dan budaya, tetapi juga menghadirkan “nama” yang seolah berjalan beriringan dengan perjalanan hidup para tokohnya. Lalu, bagaimana makna nama Sri dan Bawuk tercermin dalam takdir yang mereka jalani?
Sri Sumarah dan Bawuk merupakan kumpulan dua novelet yang pertama kali terbit pada 1975. Kedua cerita ini berlatar masa pasca-peristiwa 1965 dan sama-sama menampilkan eksistensi tokoh perempuan dengan jalan hidup yang berbeda.
Sri Sumarah digambarkan sebagai seorang janda dengan hidup yang penuh ketabahan dan pengorbanan. Sementara Bawuk adalah perempuan yang memilih mengikuti jalan hidup suaminya sebagai salah satu anggota komunis hingga harus menghadapi berbagai konsekuensi yang tak mudah.
Di balik perbedaan kisah mereka, Umar Kayam menghadirkan dua nama yang tampaknya tidak dipilih secara kebetulan.
Nama “Sri” memiliki harapan makna kemuliaan, keberuntungan, kesejahteraan, dan kebaikan dalam hidup. Nama ini banyak digunakan dalam masyarakat Jawa karena dianggap membawa harapan terhadap kehidupan yang baik dan terhormat.
Tokoh Sri Sumarah, menggambarkan sosok perempuan yang menjunjung nilai-nilai kesabaran, ketulusan, dan kesetiaan kepada keluarganya. Mulai dari kisahnya sewaktu muda sampai usia senja, Sri menjalani kehidupannya sebagai perempuan yang berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarganya meskipun harus melewati berbagai cobaan hidup.
Takdirnya dipertegas lagi dengan kata “Sumarah” yang menjadi pelengkap dari namanya. Melalui kisah ini, Umar Kayam menjelaskan filosofi tersebut melalui nasihat yang diberikan oleh Embahnya.
“Bukankah kebetulan, Nduk. Namamu Sri Sumarah. Dari Nama itu, kau diharap berlaku dan bersikap sumarah, pasrah, menyerah. Lho, itu tidak berarti lantas kau diam saja, Nduk. Menyerah di sini berarti mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak. Mengerti, Nduk?
Melalui kutipan tersebut, ditunjukkan bahwa sumarah dalam budaya Jawa tidak dapat dimaknai sebagai sikap menyerah, melainkan bermakna nilai penerimaan, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami keadaan hidup dengan hati lapang.
Dibuktikan juga dengan kisah Sri Sumarah sewaktu kecil yang dididik menjadi perempuan sabar, mampu menahan gejolak emosi, serta tetap teguh menghadapi berbagai perubahan yang datang dalam hidupnya. Filosofi ini yang kemudian menjadi landasan kisah hidup Sri Sumarah.
Berbeda makna dari filosofi Sri Sumarah, Bawuk tidak secara langsung dijelaskan apa makna dari namanya. Namun, dapat dilihat dari novel, nama Bawuk menggambarkan perempuan Jawa yang ideal, rapi, bersikap lembut, dam penurut.
Kesan itu sesuai dengan sikap Bawuk sewaktu masih kecil yang digambarkan berbeda dengan kakak-kakaknya. Bawuk bukanlah anak yang menonjol dalam prestasi maupun pola hidup keluarga priayi, ia berbeda.
Bawuk tumbuh menjadi perempuan yang mengutamakan perasaan daripada pertimbangan pribadi. Perbedaan sikapnya juga terlihat ketika ia dewasa dan memilih menikah dengan Hassan, seorang aktivis komunis.
Keterlibatan Bawuk dalam dunia politik bukan dimulai dari keyakinannya atupun keluarganya, melainkan dari kesetiaannya kepada sang suami. Hal ini terlihat dari perbincangan Bawuk dengan Yu Mi, yang mempertanyakan hubungannya dengan PKI. Saat ditanya, Bawuk justru menjawab,







