TRENDING
Lagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 202617 Brand Lokal Pakaian Terlaris7 Manfaat Buah Untuk KesehatanLNGSHOT Menang di KMA 2026Apple MacBook Neo Hadir di IndonesiaLagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 202617 Brand Lokal Pakaian Terlaris7 Manfaat Buah Untuk KesehatanLNGSHOT Menang di KMA 2026Apple MacBook Neo Hadir di Indonesia

Mocca Lahir Sebelum Era Streaming, Lalu Mengapa Lagunya Masih Didengarkan Hari Ini?

r
Sabtu, 22 Agu 202622 Agu 2026
Mocca Lahir Sebelum Era Streaming, Lalu Mengapa Lagunya Masih Didengarkan Hari Ini?
Foto Personil Mocca. Sumber: Instagram @moccaofficialFoto: reno oktabrian ramadhan / Zetizen Media

Zetizen.com - Mocca lahir pada 1999, ketika cara orang mendengarkan musik masih jauh dari Spotify, YouTube Music, atau berbagai platform streaming seperti sekarang. Namun, lebih dari dua dekade kemudian, band asal Bandung ini masih memiliki ratusan ribu pendengar bulanan di Spotify. Berdasarkan pantauan terbaru pada profil resmi Spotify, Mocca tercatat memiliki sekitar 226 ribu pendengar bulanan.

Sejumlah lagu mereka juga telah mencatat jutaan pemutaran, seperti “On the Night Like This” yang melewati 22 juta pemutaran dan “I Remember - 2017 Version” yang berada di atas 17 juta pemutaran. Angka tersebut menarik karena Mocca bukan band yang tumbuh dari ekosistem streaming, melainkan dari era kaset, CD, dan MP3. Lalu, bagaimana musik yang dibentuk sebelum era digital mampu tetap menemukan pendengarnya hingga hari ini?

Mocca Tumbuh Bersama Perubahan Cara Mendengarkan Musik

Mocca terbentuk di Bandung pada 1999 dengan formasi Arina Ephipania sebagai vokalis dan pemain flute, Riko Prayitno pada gitar, Toma Pratama pada bass, serta Indra Massad sebagai drummer. Album debut mereka, My Diary, kemudian dirilis pada 2002.

Perjalanan Mocca berlangsung bersamaan dengan perubahan besar dalam industri musik. Dari album fisik, pendengar mulai beralih ke MP3, kemudian berbagai platform digital hingga akhirnya layanan streaming menjadi bagian dari keseharian.

Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi banyak musisi lama, termasuk Mocca. Mereka tidak hanya perlu membuat karya baru, tetapi juga harus memastikan musik lama tetap dapat ditemukan oleh generasi berikutnya.

Dalam wawancara dengan IDN Times pada 2024, Riko Prayitno menyebut Mocca telah melewati berbagai era, mulai dari kaset, CD, MP3, hingga digital streaming.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bertahan selama lebih dari dua dekade bukan hanya tentang mempertahankan lagu lama, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan cara baru pendengar menikmati musik.

Mocca Tidak Lahir dari Tren yang Cepat Berganti

Salah satu alasan musik Mocca memiliki umur panjang adalah karakter yang mereka bangun sejak awal. Band ini dikenal dengan perpaduan musik folk, swing, bossa nova, jazz, serta sentuhan retro yang menjadi ciri khas mereka.

Spotify menggambarkan Mocca sebagai band yang terinspirasi dari musik era 1950-an hingga 1970-an dengan warna musik yang terasa hangat dan sederhana.

Karakter tersebut sudah terlihat sejak album My Diary yang dirilis pada 2002. Sejak awal, Mocca tidak hanya mengandalkan tren musik yang sedang populer, tetapi membangun identitas yang mudah dikenali.

Dalam beberapa wawancara, personel Mocca juga menjelaskan bahwa warna musik mereka terbentuk dari berbagai pengaruh yang kemudian dipadukan menjadi karakter bersama.

Hasilnya, lagu-lagu Mocca tetap memiliki ruang untuk didengarkan meskipun tren musik terus berubah. Cerita tentang cinta, hubungan, persahabatan, dan kehidupan sehari-hari membuat lagu mereka tetap terasa dekat.

Lagu Lama Bisa Mendapat Kehidupan Baru di Era Streaming

Perkembangan platform streaming ternyata memberikan kesempatan baru bagi lagu-lagu lama untuk kembali ditemukan. Pendengar tidak harus memiliki CD atau album fisik untuk mengenal karya Mocca.

Melalui platform digital, katalog seperti My Diary, Friends, hingga Colours dapat diakses dengan mudah oleh pendengar dari berbagai generasi.

Data Spotify menunjukkan beberapa lagu Mocca masih menjadi favorit pendengar. “On the Night Like This” menjadi salah satu lagu dengan jumlah pemutaran terbesar, disusul “I Remember - 2017 Version”.

Sementara itu, data YouTube Charts yang dipantau dalam periode 17 Agustus 2025 hingga 17 Agustus 2026 menunjukkan Mocca mencatat sekitar 2,59 juta penayangan secara global.

Perbedaan angka Spotify dan YouTube menunjukkan bahwa setiap platform memiliki pola konsumsi berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan hal yang sama, yaitu katalog Mocca masih terus menemukan pendengar baru.

Ketika Pendengar Lama dan Baru Bertemu di Lagu yang Sama

Mocca tidak hanya bertahan karena nostalgia pendengar lama. Mereka juga mampu masuk ke ruang digital yang lebih dekat dengan generasi baru.

Dalam wawancara, personel Mocca menjelaskan bahwa mereka berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas musik yang sudah dibangun sejak awal.

Pemanfaatan platform seperti TikTok juga menjadi salah satu cara Mocca memperkenalkan kembali karya mereka. Aktivitas digital tersebut ikut membantu memperluas jangkauan musik mereka kepada pendengar baru.

Pendengar yang mengenal Mocca sejak awal 2000-an tentu memiliki pengalaman berbeda dibandingkan seseorang yang menemukan lagu mereka melalui playlist digital.

Namun, lagu yang sama tetap dapat menghadirkan perasaan yang berbeda bagi setiap pendengar. Di situlah kekuatan musik Mocca terlihat.

Bahkan “Happy!” Memiliki Arti Personal bagi Arina

Selain memiliki hubungan kuat dengan pendengar, beberapa lagu Mocca juga memiliki makna personal bagi para personelnya.

Dalam wawancara dengan IDN Times, Arina menyebut “Happy!” sebagai salah satu lagu Mocca yang memiliki arti khusus baginya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah lagu tidak berhenti ketika pertama kali dirilis. Setelah didengarkan banyak orang, lagu tersebut dapat memiliki makna baru berdasarkan pengalaman masing-masing.

Pendengar mungkin menemukan cerita pribadi dalam sebuah lagu, sementara penciptanya memiliki kenangan tersendiri ketika membuat karya tersebut.

Hubungan emosional antara lagu dan pengalaman manusia menjadi salah satu alasan karya Mocca tetap terasa relevan hingga sekarang.

Mocca Bertahan Bukan karena Menolak Perubahan

Perjalanan Mocca juga tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Band ini sempat vakum pada 2011 sebelum kembali melalui album Home pada 2014.

Setelah kembali bermusik, Mocca terus memperluas katalog mereka melalui berbagai rilisan seperti Lima (2018), Day by Day (2020), hingga Walking Back Home (2021).

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bertahan bukan berarti tidak berubah. Mocca justru mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter musik yang menjadi identitas mereka.

Dari kaset hingga streaming, cara orang mendengarkan Mocca terus berubah. Namun, suasana dan cerita yang mereka hadirkan tetap memiliki tempat bagi pendengar.

Musik mereka tidak bertahan karena mengikuti semua tren, melainkan karena memiliki ciri khas yang membuat orang ingin kembali mendengarkannya.

Mocca dan Musik yang Tetap Menemukan Pendengarnya

Perjalanan Mocca selama lebih dari dua dekade menunjukkan bahwa usia sebuah lagu tidak selalu menentukan seberapa jauh karya tersebut dapat bertahan.

Di tengah perubahan industri musik, Mocca membuktikan bahwa identitas yang kuat dapat membuat sebuah karya tetap relevan meskipun zaman berubah.

Lagu-lagu mereka mungkin lahir sebelum era streaming, tetapi cerita yang dibawa masih mampu ditemukan oleh pendengar baru melalui berbagai platform digital.

Bagi kamu yang ingin mengenal kembali musik Mocca atau menemukan lagu-lagu mereka untuk pertama kali, perjalanan dari My Diary hingga rilisan terbaru bisa menjadi pengalaman mendengarkan yang menarik.

Simak terus artikel musik terbaru di Zetizen dan jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman yang ingin kembali menikmati karya-karya musik Indonesia.

Topik Terkait / Tags

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?

602 pembaca telah memberikan tanggapan

Related Article

Lihat Semua →