
Zetizen - Film ketiga ini dijadwalkan rilis 2025 dan sudah mulai bikin banyak fans nggak sabar. Dari namanya saja, kita sudah bisa menebak kalau kali ini Pandora akan memperlihatkan sisi lain yang lebih panas, lebih gelap, dan penuh konflik. Nah, sebelum tayang, yuk bahas kenapa Fire and Ash jadi salah satu sekuel yang paling ditunggu.
Perjalanan ke Suku Baru: Ash People
Kalau di film pertama kita kenal dengan Omatikaya yang tinggal di hutan, dan di The Way of Water ada Metkayina yang hidup di lautan, kali ini giliran Ash People. Seperti namanya, mereka adalah Na’vi yang hidup di wilayah vulkanik.
Bayangkan saja, dunia Pandora yang biasanya penuh dengan warna hijau atau biru akan berubah jadi nuansa merah, abu-abu, dan api. Visual ini pasti jadi tantangan sekaligus daya tarik tersendiri, apalagi James Cameron dikenal selalu total dalam menghadirkan detail lingkungan yang realistis.
Konsep Na’vi yang Lebih “Abu-abu”
Selama ini, Na’vi digambarkan sebagai makhluk yang bijaksana dan selalu jadi pihak yang “benar” dalam konflik melawan manusia. Tapi James Cameron pernah bilang kalau di Fire and Ash, kita akan melihat sisi lain Na’vi yang nggak sesuci itu.
Ash People digambarkan lebih keras, lebih ekstrem, bahkan mungkin agak antagonis. Ini menarik banget karena bikin cerita nggak lagi hitam-putih. Penonton bisa jadi diajak merenung: apakah semua pihak di Pandora benar-benar baik?
Konflik Keluarga Sully yang Makin Rumit
Jake Sully dan Neytiri jelas masih jadi pusat cerita. Setelah tragedi besar di The Way of Water, keluarga ini pasti menghadapi trauma sekaligus tantangan baru. Anak-anak mereka, terutama Kiri dan Lo’ak, kemungkinan akan lebih menonjol di film ini.
Misteri tentang Kiri yang punya hubungan unik dengan Eywa bisa jadi kunci utama cerita. Apalagi banyak spekulasi kalau Kiri akan punya peran besar sebagai “jembatan” antara dunia spiritual Pandora dan konflik yang terjadi.
Isu Ekologi Tetap Jadi Core
Dari awal, franchise Avatar selalu punya pesan lingkungan yang kuat. Kalau film pertama bicara soal hutan dan film kedua tentang laut, Fire and Ash kemungkinan besar akan menyentuh isu bencana vulkanik, eksploitasi sumber daya, hingga dampaknya bagi kehidupan.
Dengan situasi bumi saat ini yang sering dilanda krisis iklim, cerita ini bakal terasa relevan banget. Bukan cuma tontonan visual, tapi juga refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan alam.
Visual Baru yang Bikin Penasaran
Kalau efek air di The Way of Water saja sudah bikin semua orang tercengang, bisa dibayangkan betapa spektakulernya efek api, magma, dan abu vulkanik yang akan ditampilkan di Fire and Ash. James Cameron pasti nggak mau main-main soal teknologi.
Bisa jadi, kita akan melihat detail abu beterbangan yang realistis, atau letusan gunung berapi yang bikin kursi bioskop serasa bergetar. Intinya, pengalaman menonton film ini dijamin akan berbeda dari dua film sebelumnya.
Spider dan Konflik Manusia
Salah satu karakter yang masih jadi bahan perdebatan fans adalah Spider, anak manusia yang dibesarkan di Pandora. Di akhir The Way of Water, Spider bikin keputusan mengejutkan yang bisa mengubah arah cerita.
Hubungan Spider dengan Quaritch (yang “hidup kembali” lewat tubuh Na’vi) juga masih menyisakan banyak pertanyaan. Akankah dia jadi jembatan damai antara manusia dan Na’vi, atau justru sumber konflik yang makin parah?
Strategi Hype James Cameron
Jangan lupa, tayangnya ulang The Way of Water sebelum Fire and Ash juga bagian dari strategi James Cameron. Dia ingin memastikan penonton masuk bioskop dengan hype maksimal.
Dengan jeda waktu yang cukup lama antar film, tayang ulang jadi cara ampuh menjaga ingatan penonton tetap segar. Jadi ketika Fire and Ash rilis, semua orang sudah siap nyemplung lagi ke Pandora tanpa ketinggalan cerita.



