
Pengambaran sosok Widji sebagai rakyat biasa, semakin jelas ditampakan pada pertemuan akhir dengan sang istri, Sipon, dirumah tempat ia awal memupuk asa, menyusun barisan kata dengan satu keyakinan: meruntuhkan penguasa. Sipon menangis tersedu saat ia harus mengemban label wanita simpanan dari tetangga, Hal itu pun berbuah kemarahan yang menggumpal tanpa tau harus berbuat apa. Disaat yang sama Widji sebagai suami dan aktifis pun merasa dilema. Pilihan harus memilih tetap tinggal demi keluarganya, atau kembali ke jalan dan melanjutkan perjuangan.
Hingga akhir cerita, ia memilih untuk keluar dari rumah, mengorbankan kebahagiaan keluarganya. Selama 95 menit, penonton dibuat tegang sekaligus larut dalam haru biru napak tilas sang penyair. Dan itu memuncak saat detik-detik akhir, Fajar Merah--anak bungsu Widji Thukul-- melagukan puisi bapaknya yakni Bunga dan Tembok, yang membuat air mata haru mata penonton pecah, tersayat, dan mengubah gedung sinema bak rumah duka.
Penceritaaan sosok Widji Thukul dari perspektif lain membuat film ini relevan bagi siapa saja, termasuk bagi mereka yang tidak mengenal sosok Widji. Disisi lain, Yosep Anggi menjadikan sinema sebagai medium perantara bagi generasi hari ini agar mereka sadar dan tau bahwa Indonesia memiliki sejarah gelap kemanusiaan yang tidak dapat dilupakan begitu saja. Dan melalui Widji Thukul kita dapat mempercayai bahwa, seorang rakyat jelata dengan kata-kata, mampu menjadi senjata ampuh untuk meruntuhkan komplotan tiran otoriter bernama ORBA (Orde Baru).
Editor: Indrianingtyas








