
Zetizen.com - Di tengah banjir konten haul, unboxing, dan racun belanja di media sosial, Underconsumption Core hadir sebagai tren yang mengajak orang membeli lebih sedikit dan memanfaatkan barang yang sudah dimiliki semaksimal mungkin. Gaya hidup ini semakin populer karena dinilai mampu menghemat pengeluaran dan mengurangi kebiasaan belanja impulsif.
Fenomena ini pertama kali ramai di TikTok sebelum menyebar ke Instagram, Reddit, dan berbagai platform lainnya. Underconsumption Core bukan berarti hidup serba kekurangan, melainkan menggunakan barang secara lebih bijak dan membeli sesuai kebutuhan. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, tren ini dinilai semakin relevan.
Apa Itu Underconsumption Core?
Underconsumption Core mendorong seseorang memanfaatkan barang yang sudah dimiliki sebelum membeli yang baru. Sumber: pexels
Underconsumption Core adalah gaya hidup yang menekankan penggunaan barang hingga benar-benar selesai masa pakainya sebelum membeli pengganti. Fokus utamanya bukan memiliki barang sesedikit mungkin, melainkan menghargai setiap barang yang sudah dimiliki.
Berbeda dengan konsep minimalisme yang sering dikaitkan dengan tampilan rumah atau lemari yang rapi, Underconsumption Core lebih menyoroti perubahan kebiasaan sehari-hari. Mulai dari menghabiskan isi skincare, memakai sepatu selama masih nyaman digunakan, hingga memperbaiki pakaian yang rusak menjadi bagian dari prinsip ini.
Popularitasnya juga didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan. Semakin sedikit barang yang dibeli tanpa kebutuhan jelas, semakin sedikit pula limbah yang dihasilkan.
1. Gunakan Barang Sampai Benar-Benar Habis
Ilustrasi Memakai sampo, sabun. Sumber: Pexels
Prinsip paling sederhana dari Underconsumption Core adalah menggunakan barang hingga benar-benar selesai masa pakainya.
Kebiasaan ini bisa dimulai dari hal kecil seperti menghabiskan sabun, sampo, parfum, skincare, hingga alat tulis sebelum membeli yang baru. Begitu pula dengan tas, dompet, atau sepatu yang masih berfungsi dengan baik.
Di media sosial, banyak kreator justru bangga memperlihatkan produk kosmetik kosong atau pakaian yang telah dipakai bertahun-tahun. Alih-alih dianggap memalukan, kebiasaan tersebut kini dipandang sebagai bentuk tanggung jawab terhadap barang yang dimiliki.Selain menghemat uang, langkah sederhana ini juga membantu mengurangi sampah dari produk yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan.







