
Langkah ini, bagaimanapun, tidak bebas dari kritik. Menurut banyak pengamat sepakbola, terlalu banyak fokus pada naturalisasi dapat mengalihkan perhatian dari pengembangan pemain lokal. Meskipun Indonesia memiliki pemain muda yang sangat berbakat, kehadiran pemain naturalisasi sering mengurangi peluang mereka untuk bersinar.
Sebagai contoh, ketika tim nasional dipenuhi oleh pemain naturalisasi, pemain lokal yang benar-benar luar biasa dapat kehilangan kesempatan untuk bermain. Ini dapat berdampak negatif pada perkembangan sepakbola di tingkat akar rumput, di mana pencarian dan pelatihan bakat muda harus menjadi prioritas utama.
Di sisi positif, Para pemain naturalisasi juga dapat membantu pengembangan bakat untuk pemain pemain lokal, terutama yang masih mempunyai usia yang cukup muda. Karena rata rata pemain naturalisasi memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih diantara pemain pemain lokal, ini dapat menginspirasi pemain muda lokal untuk bermain dan berlatih lebih keras, yang menghasilkan budaya sepakbola yang lebih aktif dan dinamis. Dan pemain lokal juga dapat menambah ilmu yang tidak bisa didapatkan di liga lokal kita.
Selain itu pemain naturalisasi yang berhasil menyesuaikan diri dengan budaya sepakbola Indonesia juga dapat membantu memperkuat hubungan antar pemain. Untuk membentuk tim yang solid, pemain lokal dan naturalisasi harus dapat berkomunikasi dan terbuka satu sama lain. Timnas tidak hanya tentang individu; itu juga tentang seberapa baik setiap anggota tim bekerja sama dan mendukung satu sama lain.
Perdebatan tentang identitas nasional juga muncul karena naturalisasi pemain. Sepak bola adalah simbol kebangsaan dan identitas; itu lebih dari sekadar olahraga. Timnas mewakili sejarah, budaya, dan identitas nasional di mata dunia selain kemampuan teknis.
Kemenangan yang dihasilkan oleh pemain lokal asli tampaknya lebih nyata bagi sebagian orang daripada kemenangan yang dihasilkan oleh pemain naturalisasi. Dengan pemain naturalisasi, muncul pertanyaan tentang seberapa besar prestasi tim nasional dapat dianggap sebagai representasi dari kemampuan bangsa itu sendiri.
Tim nasional pada dasarnya adalah representasi dari solidaritas dan perjuangan anak bangsa. Apakah Indonesia masih dapat bangga dengan kemenangan mereka jika mereka terus menggunakan pemain asing
Tetapi Identitas nasional berkembang seiring dengan interaksi budaya dan perkembangan masyarakat. Karena globalisasi, banyak negara menjadi lebih terbuka terhadap keragaman budaya dan kontribusi individu.
Loyalitas dan komitmen untuk membela negara adalah hal yang paling penting dalam sebuah tim nasional. Pemain yang dinaturalisasi biasanya sangat berdedikasi untuk memperjuangkan kehormatan negara barunya.
Mereka butuh waktu yang lama untuk menyesuaikan diri dengan budaya baru dan belajar bahasa baru, dan seringkali mereka merasa lebih terikat dengan negara mereka karena keinginan mereka untuk berkontribusi di tingkat global.
Bukan cuma Indonesia saja, tetapi banyak juga negara-negara yang melakukan proses naturalisasi untuk kepentingan tim nasional sepakbola negara itu sendiri. Contohnya adalah timnas spanyol yang melakukan proses naturalisasi untuk mendapatkan prestasi yang mereka inginkan.
Pemain yang dinaturalisasi spanyol contohnya adalah Robin Le Normand dan Aymeric Laporte. Dua pemain ini menjadi salah satu kunci di ajang EURO 2024 yang membuat timnas spanyol keluar menjadi juara kompetisi tersebut.
Mungkin jika Federasi dan juga tim kepelatihan dapat memanfaatkan fenomena naturalisasi pemain ini sebaik baiknya, dapat mengembangkan kemampuan timnas sepakbola Indonesia sehingga dapat mendapatkan prestasi yang lebih di kancah internasional.
Satu hal yang pasti adalah bahwa Indonesia harus mencari cara untuk meningkatkan kualitas timnya agar mereka dapat bersaing di level internasional. Dalam situasi seperti ini, naturalisasi dapat dianggap sebagai cara yang masuk akal untuk mencapai tujuan jangka pendek.
Namun, Indonesia juga harus mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari kebijakan ini. Pembangunan sepak bola yang berkelanjutan akan terhambat jika naturalisasi digunakan tanpa memperkuat sistem pembinaan pemain lokal.



