zetizen

6 Alasan Pameran I Will Tell You When I Am Home di Jakarta Layak Masuk Agenda Akhir Pekanmu

Life
Suasana pameran I Will Tell You When I Am Home di ara contemporary yang menampilkan karya enam seniman internasional. sumber: Instagram @ara Contemporary

Zetizen.com -Di tengah banyaknya pilihan agenda akhir pekan di Jakarta, pameran seni bisa menjadi pengalaman yang berbeda. Salah satu yang menarik perhatian adalah I Will Tell You When I Am Home di ara contemporary, Jakarta Selatan. Pameran ini menghadirkan enam seniman internasional dengan tema rumah, identitas, dan migrasi. 

Memasuki galeri, suasana yang tenang langsung terasa. Penataan karya dan pencahayaan yang lembut membuat setiap instalasi lebih nyaman dinikmati. Lukisan, fotografi, dan instalasi menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan. Pengalaman itu membuat pameran ini layak masuk agenda akhir pekan.Pengunjung diajak memaknai arti rumah dari sudut pandang yang lebih personal.

1. Mengapa pameran I Will Tell You When I Am Home menarik untuk dikunjungi

Jawabannya sederhana karena pameran ini berbicara tentang sesuatu yang dimiliki semua orang namun jarang dipikirkan kembali, yaitu rumah. Tema besar mengenai identitas, migrasi, keluarga, dan kenangan membuat karya-karya yang ditampilkan terasa relevan dengan kehidupan generasi saat ini yang akrab dengan perpindahan kota, pekerjaan, hingga negara. 

Judul pameran sendiri diambil dari memoar penyair Palestina-Amerika Hala Alyan. Namun ketika berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, kita segera memahami bahwa pembahasan tentang rumah di sini jauh lebih luas daripada sekadar alamat tempat tinggal. Rumah dapat berupa bahasa yang kita bawa sejak kecil, aroma makanan keluarga, atau kota yang selalu ingin kita datangi kembali. 

2. Enam seniman internasional membawa cerita dari pengalaman yang berbeda

Enam seniman internasional menghadirkan perspektif berbeda mengenai rumah, identitas, dan migrasi. Sumber: Istimewa

Salah satu kekuatan terbesar pameran ini ada pada keberagaman perspektif para senimannya. Nama-nama seperti Nazif Lopulissa, Shuyi Cao, Nguyễn Phương Linh, Khairulddin Wahab, Arlette Quỳnh-Anh Trần, dan Mar Kristoff menghadirkan cara pandang yang berbeda tentang perjalanan manusia menemukan rumahnya sendiri. 

Ada karya yang berbicara mengenai diaspora dan warisan budaya keluarga. Ada pula yang menyinggung hubungan manusia dengan alam, sejarah kolonial, hingga perubahan sosial yang perlahan mengubah identitas seseorang. Menariknya, seluruh cerita itu tetap terasa terhubung oleh satu benang merah yang sama, yaitu pencarian tempat untuk merasa dimiliki. 

Di salah satu sudut galeri, karya Nazif Lopulissa mengundang pengunjung mendekat untuk melihat detail arsip dan memori yang disusun menjadi narasi visual personal. Beberapa pengunjung tampak berdiri lebih lama di depan karya tersebut, seolah sedang mencari potongan kisah mereka sendiri di antara fragmen-fragmen yang ditampilkan. 

3. Beragam medium seni membuat pengalaman menjelajah terasa lebih hidup

Hal lain yang membuat pameran ini berbeda adalah keberanian para seniman menggunakan berbagai medium. Lukisan, patung, instalasi, fotografi, hingga mixed media hadir dalam satu ruang yang sama dan membuat pengalaman menjelajah tidak pernah terasa monoton. 

Salah satu momen yang paling mudah mencuri perhatian datang dari instalasi karya Shuyi Cao yang memadukan kayu, kaca, cangkang laut, dan material daur ulang. Dari kejauhan karya itu terlihat sederhana, namun semakin lama diamati, semakin banyak detail yang mengundang rasa penasaran. 

Instalasi karya Shuyi Cao memadukan berbagai material untuk menghadirkan pengalaman visual yang unik. Sumber:Istimewa

Halaman: