
Zetizen - Tujuh tahun setelah versi bioskopnya rilis, Bumi Manusia kini hadir dalam format baru yang lebih panjang dan mendalam lewat Bumi Manusia Extended. Proyek ini kembali digarap oleh Hanung Bramantyo dan dirilis oleh Falcon Pictures secara eksklusif di platform KlikFilm.
Versi terbaru ini bukan sekadar “tambahan adegan”, tapi benar-benar dirombak menjadi format serial enam bagian agar lebih setia pada napas novel karya Pramoedya Ananta Toer.
Tayang dalam 6 Bagian, Total Lebih dari 4 Jam
Jika versi bioskop 2019 memadatkan cerita dalam satu film, versi extended kini dibagi menjadi enam episode, masing-masing berdurasi sekitar 40 menit.
Episode perdana tayang Kamis, 5 Maret 2026, dengan jadwal rilis dua kali seminggu setiap Senin dan Kamis, bertepatan dengan momen menjelang Lebaran 2026.
Menurut pihak KlikFilm, langkah ini diambil karena banyak footage yang sebelumnya terpaksa dipotong demi durasi layar lebar kini bisa dikembalikan.
Bukan Sekadar Tambah Durasi, Tapi Pendalaman Rasa
Hanung Bramantyo menegaskan bahwa versi extended ini adalah kesempatan menghadirkan “visi yang lebih utuh”.
Beberapa elemen yang kini diperdalam:
Relasi kompleks antara Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh
Pergulatan identitas Minke sebagai pribumi terdidik
Ketegangan kolonialisme yang lebih eksplisit
Lapisan sosial-politik yang sebelumnya dipadatkan
Hanung menyebut bahwa Bumi Manusia adalah “semesta besar”, sehingga satu film saja terasa belum cukup untuk menampung seluruh gagasan besar Pramoedya.
Sinopsis Film Bumi Manusia 2026
Bumi Manusia mengikuti perjalanan Minke, pemuda pribumi cerdas yang bersekolah di institusi elite Hindia Belanda. Pendidikan modern membuka wawasannya tentang identitas, harga diri, dan ketidakadilan, tetapi di saat yang sama ia tetap dipandang sebagai warga kelas dua dalam sistem kolonial.
Hidup Minke berubah ketika ia jatuh cinta pada Annelies, gadis Indo yang lembut namun rapuh. Meski tinggal di rumah besar dan hidup berkecukupan, posisi Annelies secara hukum rentan karena status ibunya sebagai nyai. Hubungan mereka tumbuh di tengah struktur sosial yang timpang, dimana hukum lebih berpihak pada darah Eropa dibanding kemanusiaan.
Di balik kisah cinta itu berdiri sosok kuat Nyai Ontosoroh. Ia perempuan pribumi tangguh yang membangun dan mengelola bisnis keluarga dengan kecerdasan serta disiplin. Meski tidak diakui setara oleh hukum kolonial, ia menolak tunduk dan memilih melawan dengan kemampuan yang dimilikinya.







