
Zetizen - Berakhirnya Stranger Things di season kelima pada 1 Januari lalu meninggalkan rasa kosong bagi para penggemarnya. Episode penutup berjudul The Rightside Up menjadi akhir perjalanan panjang anak-anak Hawkins dalam menghadapi ancaman Upside Down. Banyak penonton mengaku sulit move on, seolah kisah ikonik ini benar-benar menutup pintu semestanya.
Namun, Netflix membawa kabar baik. Dunia Hawkins ternyata belum sepenuhnya berakhir. Showrunner Eric Robles bersama kreator Stranger Things, Matt dan Ross Duffer, kembali menghadirkan kisah baru dalam format berbeda, yakni serial animasi berjudul Stranger Things: Tales of ’85. Netflix mengonfirmasi serial animasi Stranger Things: Tales of ’85 akan tayang perdana pada 23 April mendatang. Serial ini menjadi perluasan semesta yang menawarkan nostalgia sekaligus cerita segar bagi penggemar lama maupun penonton baru.
Latar Waktu di Tengah Era Klasik Stranger Things
Stranger Things: Tales of ’85 mengambil latar waktu di antara season kedua dan ketiga serial utamanya. Berlatar Hawkins, Indiana, tahun 1985, kota kecil ini kembali digambarkan tampak normal di permukaan, namun menyimpan berbagai kejanggalan yang siap meledak kapan saja.
Musim dingin yang membekukan Hawkins menjadi awal dari rangkaian peristiwa aneh. Fenomena paranormal, makhluk misterius, dan ancaman dari dimensi lain kembali muncul, bahkan dengan skala yang disebut-sebut lebih ganjil dibandingkan kejadian sebelumnya. Nuansa ini menguatkan ciri khas Stranger Things yang selalu memadukan horor, petualangan, dan persahabatan remaja.
Bukan Sekadar Spin-off Tempelan
Meski berformat animasi, Tales of ’85 tetap berada dalam satu semesta resmi Stranger Things. Duffer Brothers masih terlibat sebagai produser eksekutif, memastikan konsistensi cerita dan mitologi dunia Hawkins tetap terjaga.
Ross Duffer mengungkapkan bahwa ide serial animasi ini sudah muncul sejak lama. Ketika mereka mulai membicarakan kemungkinan eksplorasi lain dari dunia Stranger Things, format animasi menjadi salah satu gagasan pertama yang dianggap paling fleksibel untuk mengembangkan cerita.
Serial ini juga membuka peluang kehadiran karakter baru, monster baru, hingga legenda Hawkins yang belum sempat diungkap dalam versi live action. Dengan format episodik yang lebih bebas, setiap kisah bisa berdiri sendiri namun tetap saling terhubung dalam benang besar semesta Upside Down.
Gaya Animasi Terinspirasi Kartun Era 80-an
Salah satu daya tarik utama Stranger Things: Tales of ’85 terletak pada gaya visualnya. Serial ini terinspirasi dari kartun era 80-an dan 90-an, dengan desain karakter ekspresif, warna-warna mencolok, serta atmosfer horor yang tetap terasa meski dibalut animasi.
Pendekatan ini memungkinkan cerita bereksperimen lebih jauh dibanding versi live action. Adegan-adegan surealis dan makhluk-makhluk aneh bisa ditampilkan tanpa batasan teknis, sekaligus mempertahankan nuansa nostalgia yang lekat dengan Stranger Things.
Karakter Ikonis dengan Pengisi Suara Baru
Versi animasi ini tidak lagi menggunakan aktor asli dari serial live action. Netflix menghadirkan jajaran pengisi suara baru untuk menghidupkan kembali karakter-karakter ikonis Hawkins seperti Eleven, Mike, Dustin, Lucas, Will, Hopper, dan Steve.
Meski begitu, karakterisasi mereka tetap diarahkan agar terasa familiar bagi penggemar lama. Perubahan medium ini justru memberi pengalaman baru tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing karakter.
Memperluas Mitologi Upside Down
Selain menghadirkan petualangan baru, Tales of ’85 juga digadang-gadang akan memperluas mitologi Upside Down. Serial ini membuka peluang untuk mengungkap asal-usul makhluk-makhluk aneh, rahasia eksperimen pemerintah, hingga sisi gelap Hawkins yang belum sempat dibahas dalam cerita utama.
Dengan format episodik yang lebih fleksibel, setiap episode bisa berdiri sendiri namun tetap saling terhubung, membentuk gambaran besar dunia Stranger Things.





