
Zetizen.com - Ada alasan kenapa nama The Jeblogs semakin mudah ditemukan oleh pendengar musik independen Indonesia. Band asal Klaten, Jawa Tengah, ini tidak hanya menawarkan dentuman rock yang agresif, tetapi juga membawa cerita tentang keresahan, kehidupan, dan pengalaman anak muda yang terasa dekat dengan pendengarnya. Saat ini, The Jeblogs tercatat memiliki 1 Juta pendengar bulanan di Spotify.
Perjalanan tersebut tentu tidak terjadi dalam semalam. The Jeblogs berawal dari lingkungan yang jauh dari kesan glamor industri musik, yakni perkumpulan Karang Taruna Galur Manggala di Desa Jeblog, Klaten. Dari aktivitas anak muda di tingkat desa, mereka kemudian berkembang menjadi salah satu nama yang cukup diperhitungkan dalam skena musik rock independen Indonesia.
The Jeblogs Berawal dari Karang Taruna di Klaten
Nama The Jeblogs diambil dari Desa Jeblog, tempat sejumlah personelnya berasal. Band ini mulai terbentuk pada 2016 menurut profil resmi mereka, sementara kisah awal perkumpulan para personelnya telah berlangsung sejak masa aktivitas Karang Taruna Galur Manggala.
Formasi yang tercantum dalam profil resmi The Jeblogs terdiri dari Amir M sebagai vokalis, Valentino Mahoni dan Febrianto Prima pada gitar, Dani Ardian sebagai drummer, serta Ryan Ramadhan pada bass. Kelima personel tersebut membangun karakter musik yang bergerak dalam spektrum rock yang cukup luas dengan kehidupan orang muda sebagai benang merahnya.
Dari titik awal tersebut, mereka perlahan membawa musiknya keluar dari Klaten. Panggung festival dan pertunjukan di berbagai kota kemudian menjadi bagian dari perjalanan The Jeblogs hingga nama mereka semakin dikenal di kalangan penikmat musik independen.
Musik The Jeblogs Punya Energi Rock yang Liar
Kalau baru pertama kali mendengar The Jeblogs, karakter musik mereka terasa cukup mudah dikenali. Dalam wawancara dengan Leluasa, The Jeblogs pernah menggambarkan musik mereka sebagai rock yang membentang dari punk, garage hingga alternatif. Mereka juga menyebut Ramones, Nirvana, dan The Strokes sebagai sejumlah pengaruh musik.
Karakter tersebut kemudian bertemu dengan gaya penulisan lirik yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. RRI menggambarkan musik The Jeblogs sebagai musik yang mentah, penuh energi, dan membawa cerita tentang kegelisahan anak muda tanpa banyak lapisan. Pendekatan itu membuat lagu-lagunya terasa seperti percakapan langsung dengan pendengar.
Bagi pendengar, kekuatan The Jeblogs bukan hanya terletak pada suara gitar atau tempo yang menghentak. Ada pengalaman emosional yang ikut dibawa dalam lagu, sehingga musik mereka bisa terasa relevan ketika didengarkan dalam perjalanan, saat berkumpul bersama teman, maupun ketika seseorang sedang berhadapan dengan kegelisahan personal.
Perjalanan Musik The Jeblogs dari “Berantakan” hingga “Sambutlah”
The Jeblogs mulai memperkenalkan karya melalui single “Berantakan” pada 2016. Dua tahun kemudian, mereka merilis mini album bertajuk The Jeblogs pada 2018. Setelah itu, perjalanan mereka berlanjut melalui beberapa single seperti “Bonjour” pada 2020 dan “Atas Nama” pada 2022.
Tahun 2023 menjadi salah satu periode penting karena The Jeblogs menghadirkan single “Bersandarlah” sekaligus album Sambutlah. Album tersebut berisi sejumlah lagu seperti “Menari Resah”, “Pulang”, “Sambutlah”, “Lautan Api”, “Sebat Dulu”, “Ode Para Sisifus”, dan “Track 8”.
“Sambutlah” memperlihatkan ruang eksplorasi The Jeblogs yang tidak terpaku pada satu bentuk rock saja. Lagu-lagunya bergerak dengan warna yang beragam, tetapi tetap mempertahankan benang merah berupa cerita dan kegelisahan yang dekat dengan kehidupan manusia muda.
Setelah album tersebut, The Jeblogs kembali mencuri perhatian melalui “Sekian, Terima Kasih”, single kolaborasi bersama Lealona yang dirilis pada 2025. Lagu tersebut juga tercatat sebagai rilisan terbaru The Jeblogs di Apple Music.







