
Zetizen - Industri anime Jepang kembali menghadirkan karya yang menantang tradisi melalui proyek terbaru dari Studio Science SARU, yang berjudul Jaadugar: A Witch in Mongolia. Setelah menayangkan episode pertamanya pada bulan Juli 2026, anime ini segera memicu diskusi hangat dan pembicaraan mendalam di berbagai platform online, seperti Instagram, X (Twitter), dan TikTok.
Apa yang membuatnya menarik? Anime ini dengan jelas memperlihatkan kisahnya dengan latar kota kuno Persia pada abad ke-13 yang kental dengan suasana peradaban Islam di Timur Tengah, ditandai dengan suara adzan yang terdengar jelas sebagai pengiring cerita.
Bagi penonton umum maupun penggemar anime di Indonesia, kombinasi elemen religius, budaya, dan sejarah invasi Kekaisaran Mongol memberikan pengalaman yang sangat langka, berani, dan menyegarkan di tengah banyaknya anime dengan tema fantasi modern.
Kejutan Budaya Islami Abad ke-13
Alur cerita dalam Jaadugar: A Witch in Mongolia dimulai dengan pengenalan seorang karakter fiksi bernama Sitara, seorang anak perempuan yang hidup damai di daerah Persia. Ia dibesarkan di dalam keluarga Muslim yang terpelajar, yang sangat menghargai buku, penelitian, dan karya sastra.
Melalui sudut pandang Sitara di awal cerita, penonton diperlihatkan gambaran yang memukau tentang bagaimana peradaban Islam pada era abad pertengahan berkembang menjadi salah satu pusat pengetahuan terpenting di dunia. Rincian arsitektur bangunan berkubah yang khas, seni kaligrafi, sampai aktivitas di pasar tradisional digambarkan dengan sangat indah.
Namun, keindahan yang tenang itu harus berakhir dengan tragis. Tentara berkuda dari Kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh Tolui (anak dari penakluk terkenal Genghis Khan) datang untuk menginvasi kota tempat Sitara tinggal.
Dalam sekejap mata, kota yang kaya akan ilmu pengetahuan ini hancur lebur. Semua catatan sejarah dan perpustakaan musnah, dan peristiwa kelam ini menjadi titik tolak yang sangat signifikan serta sumber utama bagi alur cerita drama sejarah ini pada episode-episode selanjutnya.
Fatima Mengguncang Takhta Mongol
Setelah kotanya mengalami kehancuran total dan keluarganya tiada, Sitara terpaksa berjuang untuk bertahan hidup sebagai tawanan perang. Ia kemudian dibawa dalam perjalanan panjang melintasi benua menuju pusat pemerintahan Kekaisaran Mongol. Di tempat yang asing dan keras ini, ia memutuskan untuk menyembunyikan identitas aslinya dan menukar namanya menjadi Fatima.
Salah satu hal yang menarik yang membuat anime Jaadugar: A Witch in Mongolia harus ditonton bahkan oleh orang yang tidak biasa menonton animasi Jepang adalah sistem kekuatannya. Karakter utama kita sama sekali tidak memiliki kemampuan sihir, lingkaran sihir, atau kemampuan fisik yang luar biasa.
Dalam masyarakat Mongol yang saat itu sangat menghargai kekuatan fisik, keterampilan berkuda, dan peperangan, Fatima memilih untuk berjuang dengan cara yang jauh lebih mematikan: pengetahuan, kecerdikan taktis, sastra, dan strategi politik yang tinggi.
Karakter Fatima sendiri diambil langsung dari tokoh nyata dalam sejarah dunia, yaitu Fatima Khatun. Dia adalah seorang wanita tawanan dari Persia yang mampu memikat hati para pemimpin Mongol melalui kecerdasannya yang luar biasa, sehingga ia berhasil menyusup dan menjadi salah satu penasihat politik paling berpengaruh dan ditakuti di dalam istana Kekaisaran Mongol.
Kejeniusan Visual Studio Science SARU
Meledaknya popularitas episode pertama yang berhasil menarik perhatian jutaan pasang mata tentu tidak lepas dari ketenangan tangan tim produksi Studio Science SARU (studio animasi papan atas yang sebelumnya juga meraih kesuksesan besar dalam menggarap anime Dandadan dan Keep Your Hands Off Eizouken!).
Di bawah arahan sutradara Abel Góngora, studio ini menerapkan pendekatan visual yang sangat dinamis, sekaligus tetap menjaga ketelitian sejarah yang tinggi.
Science SARU mampu menghadirkan kontras suasana yang luar biasa kuat dalam anime ini. Penonton akan disuguhkan transisi visual dari kemegahan kota-kota Muslim di Persia yang terasa bernuansa akademis, beralih menuju eksotisme hamparan stepa Mongolia yang luas dengan kehidupan nomaden di dalam tenda-tenda kerajaan raksasa (Yurt).
Tidak berhenti pada aspek visual semata, kualitas departemen audio, perancangan musik latar, hingga pemilihan lagu tema yang sinematik berhasil membuat ketegangan atmosfer geopolitik abad ke-13 terasa benar-benar nyata. Dengan demikian, penonton awam dapat merasakan ketegangan cerita seolah sedang menonton serial drama kolosal bergengsi kelas atas dari Barat.







