zetizen

Setannya Cuan Hadirkan Horor Lokal Penuh Teror dengan Sindiran Tajam soal Obsesi Kaya Instan

Movie
Cover Setannya Cuan. Source: Vidio

Zetizen - Film horor komedi Indonesia, Setannya Cuan, resmi tayang di bioskop mulai 5 Maret 2026. Disutradarai oleh Sahrul Gibran dan Jay Sukmo, film ini menggabungkan teror mistis khas lokal dengan komedi satir yang menyentil realita sosial.

Deretan pemainnya lintas generasi, mulai dari almarhum Babe Cabita, Nadine Alexandra, Candil, Ben Kasyafani, hingga Dimas Andrean yang memerankan Levi, preman kampung dalam cerita.

Bagi banyak orang, film ini juga terasa emosional karena menjadi salah satu karya layar lebar terakhir Babe Cabita sebelum wafat pada April 2024 akibat anemia aplastik. Sejumlah pemain menyebut film ini sebagai bentuk penghormatan atas perjalanan kariernya.

Perjalanan Panjang Sejak 2019

Tak banyak yang tahu, proses produksi film ini sudah dimulai sejak 2019, sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Namun pandemi membuat perilisan tertunda bertahun-tahun hingga akhirnya baru bisa tayang pada 2026.

Proses syuting dilakukan di Pengalengan, Jawa Barat, bahkan berlangsung saat bulan Ramadan. Penantian panjang ini justru membuat film semakin dinantikan, apalagi akhirnya dirilis juga di bulan puasa yang sarat makna refleksi diri.

Judul Asli yang Berubah Demi Relevansi

Salah satu fakta uniknya, film ini awalnya berjudul Djoerig Salawe atau Jurig Salawen, yang berarti “setan dua puluh lima”.

Judul tersebut merujuk pada legenda lokal tentang setan pemberi angka keberuntungan. Namun, demi membuatnya lebih relevan dengan fenomena sosial masa kini, judulnya diubah menjadi Setannya Cuan.

Perubahan ini menegaskan fokus cerita: bukan sekadar soal makhluk gaib, tetapi tentang obsesi manusia terhadap uang instan dan cuan. Judul barunya terasa lebih kontekstual dengan generasi sekarang yang akrab dengan istilah “cuan”.

Terinspirasi Kisah Nyata dan Urban Legend Bandung

Ide cerita film ini berasal dari pengalaman keluarga produser eksekutif sekaligus penggagas ide, Robby Hilman Maulana.

Ia mengangkat kisah yang terjadi di Bandung pada era 1970-an, saat kondisi ekonomi sulit dan banyak orang tergoda mencari jalan pintas melalui praktik klenik. Salah satu lokasi yang disebut adalah Gunung Mayit, tempat orang-orang dipercaya mencari kekayaan instan dengan bantuan makhluk gaib.

Legenda Jurig Salawen atau “setan 25” yang konon memberi angka togel juga menjadi inspirasi utama. Unsur inilah yang kemudian dikembangkan menjadi horor komedi bernuansa lokal yang kental.

Horor, Togel, dan Kritik Sosial tentang Keserakahan

Berlatar di Kampung Cicalengka, cerita berpusat pada perebutan kursi lurah antara Adang dan Asep. Kekalahan, kecemburuan, pesugihan, hingga kemunculan pocong, tuyul, dan babi ngepet menjadi bagian dari kekacauan yang melanda kampung.

Namun di balik komedi dan teror, film ini memuat kritik sosial yang cukup tajam. Sutradara menegaskan bahwa lapisan terdalam film ini adalah satir tentang manusia yang ingin segalanya instan.

Ambisi politik, hasrat cinta, dan obsesi berburu cuan digambarkan sebagai sumber petaka. Film ini menegaskan bahwa yang paling menyeramkan bukanlah pocong atau setan togel, melainkan manusia yang tak pernah merasa cukup.

Lebih dari Sekadar Horor Komedi

Momentum penayangan di bulan Ramadan terasa simbolis. Film ini seakan menjadi pengingat bahwa godaan terbesar sering kali datang dari dalam diri sendiri.

Halaman: