
Zetizen - Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan kisah yang tidak hanya mengandalkan teror visual, tetapi juga permainan emosi dan psikologis penonton. Film Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat menjadi salah satu karya yang mencuri perhatian karena mengangkat cerita horor dari pengalaman nyata, dibalut dengan pendekatan spiritual dan trauma batin yang kuat.
Film ini resmi tayang serentak di bioskop Indonesia pada 18 September 2025 sebelum akhirnya dapat disaksikan secara daring melalui platform Netflix dan masuk ke dalam 10 Film Netflix teratas di Indonesia pada minggu ini. Kehadirannya menambah deretan film horor Tanah Air yang mencoba keluar dari pola jumpscare semata dan menawarkan pengalaman menonton yang lebih reflektif.
Digarap Sutradara Berpengalaman di Genre Horor
Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, nama yang sudah cukup dikenal di dunia perfilman horor Indonesia. Di bawah naungan rumah produksi VMS Studio, film ini ditulis oleh Lele Laila, penulis skenario di balik sejumlah film horor populer seperti Danur dan KKN di Desa Penari.
Sebelum tayang luas, film ini bahkan sempat meraih nominasi Film Terbaik Genre Horor di Festival Film Wartawan Indonesia 2025. Rekam jejak Azhar Kinoi Lubis yang pernah menggarap film-film seperti Petaka Gunung Gede, Pembantaian Dukun Santet, dan Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa membuat ekspektasi publik terhadap film ini cukup tinggi.
Sinopsis: Teror yang Mengikuti Sejak Lahir
Film ini berkisah tentang Maryam, seorang perempuan yang sejak lahir hidup dalam tekanan batin akibat teror mistis yang terus mengikutinya. Sejak kecil, Maryam kerap menerima surat-surat misterius yang selalu kembali meski sudah dibuang atau dibakar. Awalnya, kejadian tersebut terasa biasa bagi seorang anak, namun seiring bertambahnya usia, Maryam mulai menyadari bahwa ada sosok tak kasatmata yang selalu bersamanya.
Teror semakin intens ketika Maryam dewasa. Ia mulai merasakan kehadiran sesuatu yang mengawasi setiap langkahnya, mendengar bisikan asing, hingga mempertanyakan realitas hidup yang ia jalani. Sosok misterius itu ternyata terikat dengan Maryam melalui sebuah perjanjian kelam yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Upaya Maryam untuk melepaskan diri justru memperkuat ikatan tersebut, perlahan menggerus kesadarannya
Diangkat dari Kisah Nyata yang Sarat Trauma Psikologis
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada fakta bahwa ceritanya diangkat dari pengalaman nyata. Produser eksekutif Shalu T.M. menyebut film ini berbeda dari horor Indonesia kebanyakan karena berusaha memberi ruang empati bagi tokoh utamanya. Jin yang mengikuti Maryam sejak lahir digambarkan jatuh cinta, namun cinta gaib itu justru menjadi kutukan yang menyiksa secara emosional dan psikologis.
Pendekatan empatik ini diperkuat melalui penggunaan visual fragmen hitam putih pada bagian masa kecil Maryam, seolah mengajak penonton melihat hidupnya dari sudut pandang yang lebih manusiawi, bukan sekadar objek teror.
Penulis Skenario, Lele Laila mengungkapkan bahwa penulisan skenario film ini melibatkan riset mendalam, termasuk diskusi dengan seorang dosen dari Mesir untuk menelusuri sejarah jin hingga era Nabi Sulaiman. Unsur spiritual tersebut menjadi fondasi cerita, menjawab pertanyaan mengapa Maryam diikuti oleh jin sejak lahir.
Eksplorasi ini juga terasa dalam detail-detail film yang menekankan usia keberadaan jin sejak zaman nabi terdahulu, sehingga horor yang dihadirkan terasa lebih tua, gelap, dan mengakar.
Review Film Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat
Sebagai penonton, film ini terasa menarik sejak awal karena tidak langsung membawa teror mentah, melainkan mengajak penonton berpikir dan mengeksplorasi latar spiritual terlebih dahulu. Salah satu bagian paling kuat adalah saat jin-jin yang merasuki Maryam berbicara menggunakan bahasa Arab, menegaskan narasi bahwa entitas tersebut telah ada sejak zaman Nabi Terdahulu.
Detail ini bukan hanya menambah kesan autentik, tetapi juga memperkuat atmosfer horor yang terasa lebih mencekam dan sakral. Alih-alih sekadar menakut-nakuti, Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat berhasil menghadirkan horor yang perlahan menekan psikologis penonton.





