
Zetizen.com – Kalau kebanyakan tes calon dokter melibatkan berbagai alat dan prosedur medis, maka ujian atau tryout yang dilakukan Kurashiki Central Hospital bisa dibilang justru kebalikannya. Sebagai Rumah sakit bedah nomer satu di Jepang, Kursahiki Central menguji para calon dokter dengan tes keterampilan yang dibagi kedalam tiga tahap.Nantinya, mahasiswa kedokteran yang berhasil mengikuti tryout ini akan mendapat program magang bedah di RS tersebut.
Dalam tes pertama, peserta harus membuat origami bentuk burung sebanyak-banyaknya dengan kertas lipat yang hanya berukuran 1,5 sentimeter. Kerumitan semakin meningkat dalam tes tahap kedua yaitu menyusun anggota tubuh serangga, yang bahkan jenis serangganya pun belum diketahui terlebih dulu oleh peserta ujian.
Calon dokter yang dinyatakan lolos ke tahap terakhir kembali diuji untuk membuat moriawase sushi sebanyak-banyaknya. Caranya, dengan memotong topping sushi dan menghiasnya pada satu butir nasi. Kebayang kan gimana susahnya? Well, tingkat kesulitannya semakin bertambah masing-masing tes dijalani hanya dalam waktu 15 menit.
Uniknya, setiap peserta tes menjalani ujian seperti layaknya melakukan pembedahan, mereka menggunakan pisau bedah dan pinset untuk menyelesaikan setiap tes tersebut. That’s why, meski terlihat nggak berhubungan, tes tersebut sebenarnya membutuhkan skill dan keterampilan bedah yang tinggi untuk bisa diselesaikan.
Menurut pihak rumah sakit, tes terebut diadakan gara gara pendidikan kedokteran di Jepang dinilai terlalu pada textbook dan minim praktik. Hal itu membuat para calon dokter belum cukup terampil dalam melakukan pembedahan. Ujian tersebut sudah dilakukan untuk pertama kalinya pada 19 Juli tahun lalu untuk semua mahasiswa kedokteran di seluruh Jepang. Namun, untuk tahun ini, belum diketahui apakah tes tersebut akan kembali dilaksanakan.
“Dalam praktek klinik sehari-hari, dokter terus menghadapi tantangan yang semakin sulit. Kami ingin mengevaluasi kemampuan mahasiswa kedokteran untuk tetap tenang dan membuat keputusan tepat meski dalam situasi tertekan,” ujar Dr. Toshio Fukuoka, direktur Pusat HRD Kurashiki Central Hospital. “Kami merencanakan tryout ini untuk mengungkap potensi dan keunikan dari para mahasiswa, dimana dalam ujian tertulis biasa maupun interview hal itu tidak dapat terlihat," tandasnya. Jika pendidikan dan tryout seperti ini bisa diterapkan untuk para calon dokter di Indonesia, tentunya jumlah kasus malpraktik di Indonesia bisa diminimalisir. (adweeek/campaignbriefasia/dailymail/ndy/giv)









