
Zetizen - Film Children of Heaven versi Indonesia akhirnya resmi diumumkan oleh MD Pictures. Disutradarai Hanung Bramantyo dan diproduseri Manoj Punjabi, film ini merupakan remake resmi dari karya legendaris Majid Majidi yang rilis pada 1997. Bukan remake biasa, ada banyak fakta menarik dan proses panjang di balik film ini.
Sinopsis: Sepasang Sepatu dan Pengorbanan Kakak untuk Adik
Secara garis besar, cerita mengikuti kisah dua kakak beradik, Ali dan Zahra. Suatu hari, Ali tidak sengaja menghilangkan sepatu sekolah milik Zahra setelah mengambilnya dari tukang reparasi. Karena tahu kondisi ekonomi keluarga mereka sulit, Ali dan Zahra sepakat untuk tidak memberi tahu orang tua mereka.
Solusinya? Mereka berbagi satu pasang sepatu yang dimiliki Ali. Zahra memakai sepatu itu untuk sekolah pagi, lalu berlari pulang agar Ali bisa memakainya untuk sekolah siang. Rutinitas itu penuh ketegangan, karena jika terlambat sedikit saja, Ali bisa dihukum di sekolah.
Konflik makin emosional ketika Ali mengikuti lomba lari dengan harapan mendapatkan hadiah sepatu sebagai juara ketiga. Namun seperti film aslinya, cerita ini tidak hanya dibangun untuk memeras air mata, melainkan memperlihatkan daya juang anak-anak dalam keterbatasan.
Diperjuangkan Hingga 10 Tahun untuk Mendapatkan Hak Adaptasi
Menurut Manoj Punjabi, hak adaptasi film ini tidak didapat dengan mudah. Ia mengungkap bahwa proses mendapatkan lisensi resmi dari pihak kreator asli memakan waktu tujuh hingga sepuluh tahun.
Artinya, proyek ini bukan ide mendadak. Ada proses panjang, negosiasi, dan seleksi ketat sebelum akhirnya izin adaptasi diberikan kepada MD Pictures.
Film Aslinya Pernah Masuk Nominasi Oscar
Film Children of Heaven (1997) karya Majid Majidi adalah salah satu film Iran paling berpengaruh di dunia. Film tersebut pernah masuk nominasi Academy Awards untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.
Prestasi ini membuat versi Indonesia membawa beban ekspektasi yang tinggi, karena ada “benchmark” yang jelas dari karya aslinya.
Tidak Ingin Mengeksploitasi Kemiskinan
Salah satu poin paling ditekankan oleh Hanung Bramantyo adalah larangan mengeksploitasi kesedihan dan kemiskinan.
Hanung menegaskan pesan langsung dari Majid Majidi: film ini tidak boleh memaksa penonton menangis atau menjadikan kemiskinan sebagai komoditas.
Manoj Punjabi bahkan mengatakan, jika tujuan film hanya untuk membuat orang menangis, maka itu adalah kegagalan.
Pendekatannya adalah menampilkan martabat manusia di tengah keterbatasan—bukan menjual rasa iba.
Berlatar Semarang Tahun 1980-an
Versi Indonesia mengambil setting Semarang pada era 1980-an. Keputusan ini dibuat agar konteks cerita tetap masuk akal.
Di zaman sekarang, anak-anak sudah memiliki ponsel dan akses teknologi. Jika cerita dipaksakan ke era modern, makna sepatu sebagai barang mewah akan kehilangan kekuatannya.
Di era 80-an, sepatu memang masih menjadi simbol kemewahan dan kebutuhan penting bagi anak sekolah dari keluarga sederhana.







