Sosok Yoyo Yogasmana, Juru Bicara Kasepuhan Ciptagelar yang Kerap Keliling Dunia
| 1188 views | 195 comments

Zetizen.com - Berpengetahuan luas, melek teknologi, jago bahasa Inggris, dan sering menjadi pembicara maupun performer seni di luar negeri. Itulah sosok Yoga Yogaswana, 45 (paling kiri). Tokoh yang cukup penting di Kasepuhan Ciptagelar sekaligus seniman kenamaan dari tanah Pasundan.

---

Kabut tipis Gunung Halimun menyelimuti gelapnya malam Kampung Ciptagelar di kawasan Sukabumi, Jawa Barat. Suhu udara di luar ruangan berkisar 15 derajat Celsius. Suasananya begitu senyap. Tak ada suara bising kendaraan. Malam itu, ditemani beberapa warga setempat sembari menyeruput segelas kopi panas, tim Zetizen menunggu kehadiran seseorang yang penting. Sebab, hanya melalui dia, kami dapat menemui sang pemimpin adat yang disebut Abah.

Tepat pukul 20.00, terdengar raungan knalpot motor dari depan rumah panggung yang kami singgahi ini. Tak lama kemudian, denyit kayu dan engsel pintu terdengar yang diiringi derap langkah dan sapaan si pemilik motor. ’’Punten, saya Yoyo. Maaf ya menunggu lama,’’ ujarnya memperkenakan diri. Dialah Yoyo, panggilan akrab Yoyo Yogaswana, si tangan kanan Abah.

Pria 45 tahun itu sehari-hari berperan sebagai Humas alias liaison officer Kasepuhan Ciptagelar. Jadi, setiap tamu yang ingin bertemu dengan Abah atau sekadar mengunjungi Kampung Ciptagelar akan ditemani olehnya.

Peran Yoyo dalam kehidupan masyarakat Ciptagelar cukup banyak dan penting. Selain Humas, dia menjadi semacam kepala riset, juru bicara, penerjemah, engineer, serta seniman Kasepuhan Ciptagelar.

Sebagai kepala riset, Yoyo bertugas membangun dan mengembangkan berbagai teknologi terapan, terutama yang berhubungan dengan teknologi digital. Di dalam rumah yang sekaligus studio dan stasiun pemancar TV buatan mereka, terdapat berbagai perlengkapan siaran sederhana. ’’Transmiter untuk nyiarinnya itu saya buat sendiri dari komponen-komponen barang yang udah nggak kepakai,’’ ungkap pria berambut panjang tersebut.

Yoyo juga bertanggung jawab bila ada tamu asing yang datang ke kampung mereka. Kemampuan berbahasa asingnya cukup dapat diandalkan. Dia bahkan sudah sangat sering bepergian ke luar negeri, baik dalam rangka memenuhi undangan sebagai pembicara di forum-forum masyarakat adat internasional maupun menjadi seorang art performer.

’’Baru Mei lalu saya diundang ke Eindhoven buat jadi pembicara acara Green and Fair Food 2015,’’ jelasnya. Acara yang dimaksud adalah seminar internasional yang membahas ketahanan pangan dunia dan inovasi apa saja yang bisa membantu hal tersebut. Di kota di Belanda bagian selatan itu, Yoyo memaparkan rahasia swasembada beras Ciptagelar.

Sejak 2000, pria murah senyum tersebut memang melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Sebut saja, Taiwan, Tiongkok, Jepang, Kanada, dan Finlandia. Kebanyakan tampil di acara kesenian. Maklum, selain perwakilan dari salah satu masyarakat adat yang cukup terpandang, Yoyo merupakan seniman kenamaan tanah Sunda.

’’Saya paling sering sih ke Taiwan. Udah berapa kali ya? Sampai lupa, ha..ha..ha,’’ ucap dia. Di dalam rumahnya, tampak kumpulan koran, lembaran poster, serta tumpukan majalah yang memberitakan pertunjukannya. Beberapa di antaranya berbahasa Prancis.

Majalah itu memuat berita art performance dan unjuk gigi alat musik karinding khas Sunda yang dibawakan Yoyo dalam ajang Viva! Art Action di Montreal, Kanada. Lalu, ada juga tumpukan koran berbahasa Mandarin. Terdapat foto Yoyo ketika sedang berlumur cat dan berbalut tali di halaman koran mereka.

’’Performance saya ngangkat banyak tema kritis. Banyak filosofi yang sesuai dengan adat Ciptagelar seperti hidup harmonis, menghomati alam, dan menghargai makhluk hidup lain,’’ tutur suami Umi Kusumawati tersebut. Bahkan, di sebuah pertunjukan, alumnus jurusan Seni Rupa IKIP Bandung itu sampai jatuh pingsan karena membiarkan dirinya ditarik dengan tali oleh puluhan orang hingga menyumbat aliran darah.

Meski Yoyo sudah sering keluar negeri, sebagai warga Kasepuhan Ciptagelar, terlebih orang kepercayaan sang pemimpin adat, kehidupannya tak berbeda dengan warga lain. Rumahnya tetap beralas kayu dan berdinding bambu. Malam itu tim Zetizen menghabiskan waktu ngobrol dengannya hingga menjelang sahur. (ash/c14/dri)

Dewi  Masyitoh
Dewi Masyitoh, 14
Jawa Timur
100 poin
joined 3 hours ago
Lisa Novena Tjukipto
Lisa Novena Tjukipto, 19
Jawa Timur
3600 poin
joined 5 hours ago