Kampanye #savelaguanak digaungkan para penyanyi cilik yang ngetop pada era 90-an. Sambil mulai menikmati lagu-lagu yang mereka siapkan, mari mengingat siapa saja mereka dan kehebatannya pada masa tersebut.

---

Andra Oktaviani, Jawa Pos

---

 

DIOBOK-obok, airnya diobok-obok. Ada ikannya kecil-kecil pada mabok...Generasi 90-an pasti tahu atau malah hafal dengan lagu berjudul Air tersebut. Penyanyinya adalah Joshua Suherman. Pria kelahiran Surabaya, 3 November 1992, itu mengawali debut dengan album Cit Cit Cuit pada 1996. Saat itu umurnya baru 3 tahun. Tubuhnya yang mungil, wajahnya yang imut, serta logat Surabaya yang kental membuat pria yang punya panggilan Jojo tersebut mudah terkenal.

Karirnya begitu cemerlang. Dari menyanyi, Jojo merambah ke dunia peran dengan membintangi sinetron berjudul Anak Ajaib. Dari sinetron itu juga, Jojo dapat julukan Anak Ajaib. Memang, dengan usianya yang masih sangat belia, ketika itu Jojo sangat terkenal. Penampilannya ditunggu para penggemar. Baik anak-anak maupun para orang tua.

Saat ditemui di Abbe Music Studio, Jakarta Selatan, pada Selasa malam (23/8), Jojo menuturkan bahwa masa-masa seperti itu sulit terulang lagi sekarang. Katanya, zaman sudah berubah. Bukan karena Jojo sekarang tidak lagi berjaya.

’’Tapi karena situasi dan kondisinya sudah berubah drastis. Terutama tentang pandangan masyarakat terhadap penyanyi cilik,’’ kata Jojo.

Sebetulnya banyak musisi yang menyadari kebutuhan lagu dan penyanyi anak pada masa kini. Sampai Gita Gutawa dan ayahnya, Erwin Gutawa, melahirkan album Di Atas Rata-Rata yang berisi suara apik para bocah. Sayangnya, tidak banyak lagu yang bisa hit.

Ada pula penyanyi cilik Naura, putri Nola Be3. Dia punya suara emas dan wajah yang manis. Apa yang kurang dari Romaria? Penyanyi cilik Malu sama Kucing itu mempunyai rupa dan tingkah yang sangat menggemaskan. Lagu-lagunya pun catchy dan anak-anak banget. Modal untuk menjadi penyanyi cilik sudah mereka miliki semua. Lalu, kenapa tidak ada yang bisa booming ya? ’’Sebab, mereka tidak punya audiens,’’ jelas Jojo.

Menurut Jojo, pada era 90-an, anak-anak hanya mendengarkan lagu anak-anak. Saking lagu-lagu anak sering diputar, orang tua lantas ikut terbiasa mendengarkannya. Orang dewasa, ujar Jojo, tidak malu menikmati lagu anak. Sekarang sebaliknya. ’’Anak-anak saja malu mendengarkan lagu anak. Karena itu, mereka akhirnya mendengarkan musik dewasa. Itulah yang terasa paling kontras antara zaman dulu sama sekarang,’’ papar Jojo.

Jumlah massa penyanyi cilik saat itu tidak kalah oleh jumlah fans saat Slank atau Iwan Fals manggung. Banyak sekali. Sekali waktu, Jojo pernah diundang menyanyi pada event pembukaan perumahan. Penonton yang datang untuk melihat penampilan Jojo luar biasa banyak. ’’Selapangan penuh semua. Itu sebenarnya hal yang sangat biasa. Mal penuh karena ada penyanyi cilik yang manggung, biasa banget,’’ kenang Jojo.

Jojo juga pernah gagal manggung karena kondisi venue tidak memungkinkan. Saking penuhnya penonton, panitia tidak mau mengambil risiko hingga akhirnya membatalkan acara tersebut. Bagaimana dengan penonton yang kadung membeli tiket? Tentu saja mereka chaos.

Di tempat lain, Jojo pun pernah menyaksikan langsung penonton chaos karena sound system konsernya sebagai penyanyi anak-anak rusak. ’’Sekarang di mana bisa menemukan penyanyi cilik bikin chaos? Saat band tampil di mal saja, penontonnya sedikit,’’ ungkap pria yang sekarang aktif menjadi vlogger tersebut.

Jojo menyatakan, euforia penontonlah yang bisa membuat industri musik anak kembali mencapai masa emasnya. Karena itu, Jojo memutuskan untuk tidak akan keluar dari dunia hiburan. Itulah yang juga melatarbelakanginya untuk terlibat dalam #savelaguanak. ’’Kami akan terus gerakkan kampanye ini. Membuat anak-anak kembali mau mendengar lagu anak-anak. This is my world,’’ tutur Jojo. Lalu, bagaimana dengan penyanyi lain? (bersambung/c14/ayi)

Share
Create Your Own Article!