Flat Earth Society: Komunitas di Balik Teori Bumi Datar
| 6484 views | 152 comments
Teori bumi bulat yang digagas Flat Earth Society (foto: theflatearthsociety)

 

Zetizen.com – Beredarnya teori kalau bumi sebenarnya datar sempat menghebohkan media sosial. Saking meyakinkannya, banyak orang yang men-share teori itu tanpa mempelajari lebih lanjut. Teori itu pertama kali disebarkan oleh Flat Earth Society. Yuk, simak latar belakang dan teori-teori lain dari mereka! Let's see siapa yang benar.

 

Pada 1956, Samuel Shenton mendirikan Flat Earth Society. Jumlah pengikutnya terus menurun sampai 1980. Tapi, 24 tahun kemudian, yakni 2004, Daniel Shenton membangkitkan perhimpunan ini dengan forum yang lebih modern. Saat ini, jumlah anggotanya lebih dari 500 orang. Mereka punya website, forum, sampai channel YouTube untuk menyebarkan teori-teori yang ditemukan.

 

APA SAJAKAH TEORI ITU?

 

#1 Nasa Berbohong Tentang Foto Bumi

Kelompok ini yakin bahwa foto dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) adalah hasil teknologi CGI (Computer-Generated Imaginary). Padahal, hasil CGI itu dibuat NASA dari gabungan beberapa gambar yang dikumpulkan lewat satelit luar angkasanya.

 

Hasil foto yang didapat NASA dari salah satu satelitnya (foto: youtube)

 

Dalam potongan foto itu terlihat refleksi lengkungan dari bumi. So, kalau begitu, bentuk bumi jelas bulat kan?

 

#2 Satelit Itu Nggak Nyata

Teori ini sepertinya gampang banget dibantah. Hampir semua teknologi sekarang memerlukan satelit, baik komunikasi maupun sistem perbankan (Baca: Indonesia Luncurkan Satelit Perbankan Brisat).

 

Lalu, bagaimana dengan Google Maps? Google Maps jelas menggunakan GPS dan satelit. Google punya lebih dari 180 satelit di luar angkasa. Dari satelit-satelit itu, kita bisa melihat daerah di mana pun. Misalnya, Zetizen Jakarta bisa melihat lokasi dan suasana Jepang. Kalau nggak ada satelit, gimana kita bisa tahu gambaran suatu daerah yang terkena bencana? Kita juga nggak bakal tahu perkiraan cuaca, video chat-an lewat Skype, dan lain-lain.

 

#3 Nggak Ada Gaya Gravitasi

Sejak SD, kita diajarkan kalau benda jatuh ke bawah karena ada gaya tarik bumi atau gaya gravitasi. Tapi, menurut Flat Earth Society, nggak mungkin ada gravitasi karena bumi itu datar. Menurut mereka, benda jatuh ke bawah karena ada perbedaan berat jenis antara benda dan udara. Coba buka buku fisika dan cari rumus berat jenis.

 

Rumusnya adalah s = mg/V
s = berat jenis (N/m³)
m = massa benda (kg)
g = gaya gravitasi (N/kg)
V = volume benda (m³)

 

Wow, perhitungan berat jenis butuh gravitasi loh! Butuh Aqua?

 

#4 Letak Matahari dan Bulan Berdekatan dengan Bumi

Teori bumi bulat menyatakan bahwa bumi adalah piringan dengan lingkaran arktik di pusat dan antartika berupa dinding es dengan ketinggian 150 kaki berada di pinggirannya. Siang dan malam bisa terjadi karena matahari dan bulan berada di atas bumi. Jaraknya hanya sekitar 51 km. Matahari dan bulan bergerak dalam pola lingkaran dengan jarak 4,8 km. Jadi, ibarat lampu sorot, matahari dan bulan menerangi bagian bumi yang berbeda dalam siklus 24 jam.

 

Biar gampang, ayo kita bahas pakai logika. Kulit luar dari matahari saja suhunya mencapai 7 juta derajat celcius. Kalau jaraknya cuma 51 km dari bumi, seharusnya matahari membakar semua yang ada di bawahnya dong.

 

Lalu, bagaimana dengan pasang surut air laut? Fenomena itu terjadi karena adanya gravitasi bulan yang menarik air laut pada permukaan bumi. Kalau bulan berada tepat di atas bumi yang datar dan tanpa gravitasi, bagaimana pasang-surut air laut bisa terjadi?

 

Peta dunia versi bumi datar (foto: theflatearthsociety)

 

Kalau salah, kenapa masih aja ada yang percaya?

Menurut Rob Brotherton, seorang psikolog spesialis teori konspirasi dari Barnard College, New York, ketika suatu hal besar terjadi, kita cenderung menganggap bahwa penyebabnya adalah suatu hal yang besar juga. Hal itu disebut sebagai proportionality bias.

 

“Orang yang percaya teori konspirasi cenderung tidak mempercayai pengetahuan yang diakui umum. Dengan persepsi bias, mereka akan mencari bukti yang mendukung keyakinannya. Hal itu juga menimbulkan illusion of understanding, kecenderungan melebih-lebihkan pengetahuan,” ungkap Brotherton.

 

Tentu saja perdebatan bumi datar vs bumi bulat ini seperti kemunduran pola pikir dan ilmu pengetahuan. Sebab, perdebatan ini seolah nggak pernah selesai sejak abad ke-13. Padahal, bantahan teori ini bisa kita temukan sendiri kok di buku-buku pelajaran. So, jangan gampang termakan teori-teori buatan seperti ini ya! (livescience/phys/afk/rat)

 

Dewi  Masyitoh
Dewi Masyitoh, 14
Jawa Timur
100 poin
joined 2 hours ago
Lisa Novena Tjukipto
Lisa Novena Tjukipto, 19
Jawa Timur
3600 poin
joined 5 hours ago