Pesta Pora bersama Boja Krama ke Lima
| 122 comments
Audience menyesaki area gigs. samasekali tak terganggu dengan suasana pengap dan 'sumuk' yang terasa. (foto: Ivan/Zetizen team)

 

Zetizen.com - Gigs rutin bulanan yang digagas oleh Rumah Gemah Ripah ini, ternyata masih belum mati. Mereka justru menunjukan eksistensinya lewat gelaran edisi gigs-nya yang kelima. Pada 11 Agustus 2016 silam, bertempat di dalam studio gedung bersejarah, Merdeka FM Surabaya, Boja Krama kali ini kembali kedatangan tamu jauh dari Negeri Jiran yang mampir sejenak di kota Surabaya dalam rangka promo debut EP pertamanya yang bertajuk “Chingichanga”.

Tanpa melupakan talenta lokal, Cotswold, Timeless dan Indonesian Rice ditunjuk untuk berunjuk gigi pada perhelatan Boja Krama kali ini. Waktu menunjukan pukul 7 malam, set pun dibuka dengan manis oleh Cotswold. Unit soaked-pop yang gemar bermain reverb, membuka gigs ini dengan penampilan yang mempesona. Untuk kalian para pengemar DIIV atau Beach Fossil, Cotswold adalah suatu unit muda berbahaya dari Surabaya, yang perlu kalian ekstra perhatikan. Tanpa perlu tedenga aling-aling, Cotswold membuka penampilan dengan nuansa yang dingin, misterius dan kelam.

Kadar atmosfer yang gelap, kelam dan murung tanpa perlu mengingkari chillin' nya soaked pop, mereka sajikan sedari awal. Porsi pertemuan yang pas antara post-punk dan soaked-pop berdosis tinggi, kian memabukan kala mereka tengah memainkan nomor “European Oceanpada pertengahan pertunjukan. Sound gitar yang mendayu-dayu, serta karakter vokal penuh reverb yang seolah merapal mantra magis, bergema-gema tanpa jeda, menambah pengap suasana dalam studio radio Merdeka.

Dengan kondisi venue yang cukup panas, Cotswold berhasil menyuntikkan atmosfer yang menyejukan kedalam lingkaran. Band yang baru saja merilis sebuah split album dengan Bedchamber ini, berhasil membuka acara dengan sempurna. Pada nomor terakhir, Cotswold menghadirkan “Marra” sebagai track penutup.

Lagu yang juga menjadi promotion single pada split album mereka “Portside” ini, berhasil menyita keringat audience untuk kembali larut dalam hingar-bingar yang Cotswold ciptakan. Marra”, merupakan nomor favorit bagi saya secara personal. Pada lagu ini, Cotswold membawakan kombinasi soaked-pop dan post-punk yang lebih gelap, dingin, dan lebih kelam dari materi mereka sebelumnya. Usai menutup penampilanya, Cotswold mendapat hadiah berupah gemuruh tepuk tangan riuh, yang sekaligus merupakan sebuah jawaban, bahwa penonton terpuaskan.

Pasca Cotswold turun panggung, Indonesian Rice ditunjuk giliranya untuk mengokupasi panggung Bojakrama. Terang saja, unit dub atau reggae yang juga baru saja menyelesaikan debutnya ini, dalam sekejap menyulap panggung Boja Krama menjadi lantai dansa.

Alunan Dub-Reggae a la Jamaica, telah Indonesian Rice telah mereka tiup dan hembuskan melalui Trombon yang kontan menyihir audience untuk larut menari dan berdansa seirama dibawah komando Big Daddy, sang pelontar suara. Band yang membaptis debutnya dengan judul Prolog” ini, mengubah atmosfer acara, mulai dari gelap menjadi ceria. Penonton pun tak berdaya ketika Indonesian Rice memaksa mereka untuk hanyut dalam lantunan lagunya. Jika awal mereka hanya mengerakan pundak, maka hingga akhir lagu berhenti berdansa pun mereka tidak.

Suasana kian pecah ketika mereka melantunkan nomor “Ghetto” yang disinyalir sebagai nomor favorit para pengemarnya. Deru terompet, dan sound gitar yang kian menggila, telah menciptakan crowd yang tak karuan padatnya. Meskipun bersimbah keringat, audience seakan enggan untuk melewatkan sedikit pun pertunjukan.

Usai meninggalkan panggung dengan tensi yang cukup tinggi, kini giliran Timeless yang berkesempatan untuk meledakanya. Dan benar saja, sejak chord pertama Bima dan Fajri dilesatkan, moshpit pun pecah! Dan penonton pun ber sing-a-long Ria. Timeless patut ditunjuk sebagai biang kerusuhan pada perhelatan Rumah Gemah Ripah kali ini.

Dimulai dengan nomor “Golden Age”, Timeless menyulut set dengan luar biasa Dan tensi acara pun kian meninggi. Penampilan band yang juga memiliki janji untuk menyelesaikan debutnya tahun 2016 ini, mengingatkan kita pada era 4 album perdana Dinosaur jr,atau album-album sempurna milih The Gas Light anthem. Dengan musik yang catchy dan lirik yang memorable, aksi enerjik dari Timeless selalu berbuah manis yakni respon yang mengesakan dari penonton.

Suasana venue yang ‘sumuk’, bukanlah penghalang bagi para audience yang terlihat, imgin menutaskan rindu akan suasana gigs musik kelas dua, yang akhir-akhir ini sudah jarang dilaksanakan. Nomor-nomor andalan seperti “Lonesome Street”, “Reminisce”, dan single teranyar mereka “Ride Into The Sun” pun tak ketingalan mereka bawakan. Timeless berhasil menuntaskan penampilan dengan cukup satu kata untuk mewakilinya; mengesankan! Skena musik indie di Surabaya, hari ini tengah mengeliat hebat. Setelah Silampukau, nama-nama seperti Cotswold, Indonesian Rice dan Timeless adalah unit baru yang patut untuk diperhatikan

 

Lust tampil energik menjelang akhir acara. (foto: Ivan/Zetizen team)

 

Waktu mulai menginjak pukul 10, dan akhirnya kita telah sampai pada saat yang ditunggu-tunggu. Kini saatnya Lust, kuartet psychedelic/math rock asal negeri jiran ini yang mengambil alih. Dimulai dengan trek berjudul “Naga”, Lust membuka penampilan mereka dengan bermain sangat impresif, enerjik sekaligus emosional. “Amphibia”,”Abardeen St” pun tak ketinggalan mereka bawakan.

Aksi ramah dari sang frontman Fariz yang berusaha menyapa audience dengan melayu-Indonesia yang terbata-bata, disambut gelak tawa. “Terimakasih Surabaya, disini sumuk ya? But keren.” Pasca menutaskan penampilan, Lust langsung menorobos pintu keluar dan menyapa hangat dan ngobrol ringan dengan para penonton yang kebetulan tak lebih dari 100 orang.

Surabaya, merupakan destinasi ke-6 bagi tour promo EP mereka. Pasca menikmati ‘hangat’nya kota pahlawan, Lust langsung terbang ke Bali untuk menutaskan titik terakhir dari tour mereka, sebelum kembali ke Malaysia dengan segudang cerita dari Indonesia. Yang selalu dirindukan dan tak dapat digantikan, dari gigs kecil seperti Boja Krama ini, adalah kehangatanya. Dan semoga, kita masih dapat bersua di Boja Krama selanjutnya. Longlive! (reno surya/dri)

Dewi  Masyitoh
Dewi Masyitoh, 14
Jawa Timur
100 poin
joined 2 hours ago
Lisa Novena Tjukipto
Lisa Novena Tjukipto, 19
Jawa Timur
3600 poin
joined 5 hours ago