Foto: Publish Your Article

Zetizen.comYay! sebagian wilayah di Indonesia telah memasuki musim hujan. Setelah berpanas-panasan ria selama beberapa bulan yang lalu, siap-siap deh untuk merasakan sejuknya tetesan air hujan yang selama ini dinanti. Eits, sudah masuk ke musim hujan, tapi hawanya kok malah terasa gerah ya? Hawa terasa semakin panas kayak nggak ada angin yang lewat? Emang kenapa sih?

 

Berawal dari awan mendung

(Foto: Tes)

Seperti yang kita ketahui, sebelum hujan turun pasti ada awan mendung yang menghampiri dan menutupi suatu wilayah. Well, kalau kamu masih ingat pelajaran SD tentang siklus hujan terbentuk, awan mendung merupakan kumpulan dari uap air hasil dari proses penguapan air laut, danau, sungai, dan sumber air lainnya.

Ibaratnya kalau kamu membuka tutup panci ketika air telah mendidih, akan ada kumpulan uap panas yang keluar karena proses pemanasan. Artinya, kadar uap air yang dihasilkan dari udara panas lebih banyak ketimbang saat udara dingin.

Uap air akibat proses pemanasan ituakan berkumpul menjadi awan mendung yang semakin lama akan naik ke atas, hingga bertemu dengan udara dingin yang ada di lapisan atmosfer. Saat ini lah awan mendung akan melepaskan panasnya untuk bisa melebur dengan udara dingin. Ini nih yang menimbulkan hawa panas yang selama ini kita rasakan!  

Baru saat semua panas telah terlepas, udara terasa mendingin. Saat itu lah hujan mulai turun. Karena hujan pada hakikatnya sama seperti embun di pagi hari. Uap air yang membentuk awan akan mengembun saat udara disekitarnya menjadi dingin.

 

Tingkat kelembapan yang tinggi

(Foto: HelloMagazine)

Alasan lain yang menyebabkan hawa gerah adalah tingkat kelembapan yang tinggi. Hal ini terjadi saat sebelum awan mendung itu berubah menjadi air hujan.

Saat sebelumnya awan mendung telah membuat kita gerah dan mengeluarkan keringat, udara yang sudah sangat penuh dengan uap air pun tidak akan menyisakan ruang bagi keringat kita untuk menguap. Kondisi ini mirip banget kayak kamu lagi berebut baju dengan ibu-ibu di toko yang lagi diskonan!

Alhasil, karena keringat yang sudah keluar tadi nggak bisa menguap, otomatis suhu tubuh akan terus meningkat, just like a sauna. Pantes kita ngerasa gerah banget.  

 

Efek Rumah Kaca

(Foto: AstroCamp School)

Masih ingat sama teori yang satu ini nggak? Cahaya yang sudah masuk ke dalam rumah kaca akan terjebak di dalamnya, karena cahaya yang harusnya keluar malah terpantul dan terperangkap di dalam rumah kaca tersebut.

Yap, hal ini sama seperti saat kondisi bumi sedang tertutupi awan mendung. Panas matahari yang sudah masuk akan terjebak awan mendung tersebut. Hal ini dikarenakan awan mendung yang terbentuk telah mengandung banyak gas polusi, seperti karbondioksida, karbon monoksida atau gas rumah kaca lainnya.

That’s why, kawasan perkotaan yang tingkat polusi udaranya lebih tinggi akan cenderung merasakan hawa gerah yang lebih parah sebelum hujan turun. Nah, jadi gerah yang kita rasakan ini ada penyebab ilmiahnya yaa, bukan gara-gara neraka bocor! hihihi.. 

 

Source: HowStuffWorks, NASA

Editor: Fahri Syadia

Share
Create Your Own Article!