Meski tak punya latar belakang sebagai dancer, tim UBS Gold Dance Skensa dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya.

foto: Miftahuddin/Radar Bali

Zetizen.com - Sebagai Sekolah teknik menengah tertua di Bali, SMKN 1 Denpasar identik sebagai sekolah yang didominasi siswa cowok. Dari 2200 siswa, hanya ada 200 siswi yang terdaftar di Sekolah kawasan Cokroaminoto Ubung, Denpasar tersebut. Tentu saja, tim basket Skensa, SMKN 1 Denpasar sempat kesulitan mencari tim dance pendamping. Apalagi mencari murid yang jago dance, jadi tantangan sendiri bagi Skensa.

“Maklum lah kami kan STM. Pelajar laki-laki lebih mendominasi. Perjuangan terberat kami, ya mencari personel. Kami butuh waktu sebulan untuk mencari siswi cewek yang mau bergabung,” kata Lady Octaviani, kapten tim UBS Gold Dance Competition, di sela tim putra mereka melawan SMA GMIS Denpasar .

Pembentukan dance Skensa diawali oleh tiga pemain basket putri, mereka diajak bergabung dengan tim dance oleh tim basket putra. Ketiganya adalah Diah Adiari, Lissa Cahaya dan Dinda Anissa.

“Sempat shock juga. Dari pemain basket diminta jadi dance. Apalagi saya nggak punya dasar dance,” kata Diah Adiari menimpali.

Dari situ lah kemudian satu per satu personel tim dance Skensa berkumpul menjadi 10 orang. Dua orang berasal dari kelas XII dan sisanya 8 orang dari kelas XI. Uniknya, mereka semua nggak punya latar belakang dance. Dua di antara bahkan atlet bela diri. Yakni Nanda sebagai atlet Pencak Silat dan Dinda Anissa atlet Karate. Selain itu, di antara mereka ada yang baru kenal saat pembentukan tim dance.

“Kami saling chat dan bertanya ke teman-teman, jika ada teman di Skensa yang mau dan siap jadi dancer. Dari situ kemudian tim ini berkumpul,” lanjut sang kapten yang juga aktif sebagai anggota PMR Skensa itu. Setelah dancer terkumpul, mulai awal bulan Juli mereka baru melakukan persiapan intensif. Perjuangan terberat lainnya tentu urusan koreografi. Latihan mereka geber mulai jam 07.00 pagi hingga 16.00 sore, dengan dua kali istirahat.

Semua mereka jalankan sambil tetap memnuhi kewajiban dan tugas-tugas Sekolah. Untuk urusan koreo dan musik mereka dilatih Suryantani Vera. Sedangkan urusan kostum, tim dance Skensa mengaku mendesain sendiri. Mereka sengaja melakukannya sendiri untuk membuktikan kemandirian serta tak melibatkan siswa cowok sebagai anggota dance.

“Kami sering dapat pertanyaan, sekolah di mana? Ketika dijawab di SMK 1 lalu ditanya lagi, oh sekarang ada murid ceweknya ya? He he… Dari sanalah kami bertekad membuktikan, sekolah di SMK itu nggak hanya cowok,” tandas Lady.Well, you did it, Skensa!

Share
Create Your Own Article!