Waft-Lab: Kolektif Multitalenta Mutakhir dari Surabaya
| 8 comments

Zetizen.com - Di penghujung 2016, Zetizen menerobos malam gelap bulan Desember, menuju markas kolektif eksperimental yang bernama Waft-Lab, di ujung barat kota Surabaya. Berdiri pada tahun 2011 Desember silam, usia kolektif interdisipliner ini telah menginjak 5 tahun. Kami menemui pria gimbal yang akrab disapa Uncle Twist, salah satu garda depan dari kolektif yang menolak disebut scientist ataupun music engineer ini “Kita ini sebenarnya hanya orang-orang ya suka guyon aja mas. Tapi sambil terus belajar,” ungkap Twist sembari kembali menyeruput kopi hitam disampingnya.

Melahirkan karya eksperimental dari segi audio, visual hingga interaksi adalah hal yang rutin WAFT-Lab lakukan, khususnya di bidang elektronik. Selain merakit, WAFT-Lab juga kerap melakukan pameran serta perfomance art dari karya yang mayoritas mereka bikin secara swadaya atau handmade.

Seperti halnya Twist, pria yang menggandrungi musik eksperimental semacam ambience hingga dhrone ini, mengaku “Saya secara berkenalan dengan musik eksperimen khususnya elektronik berawal dari bikin synthesizer. Lalu saya merasa kok rasanya kurang yo kalau gak dimainin? Akhirnya saya bikin performance dengan bentuk alat-alat analog bikinan saya sendiri itu,” ungkap pria yang juga tergabung dalam grup musik Hyperallergic ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa para seniman eksperimental masih memiliki ruang sempit untuk unjuk gigi di kotanya sendiri. Kerap kali, kegiatan kolektif yang memegang teguh etos DIY (do it yourself) lah yang memperpanjang umur seniman-seniman seperti ini. Hal itu sekaligus menjadi medium penyampaian karya dari seniman untuk bertemu dengan audiens. Seperti halnya festival musik elektro tahunan dari WAFT-Lab yang bernama Electro-work. “Iya sih, kurang banget. Jadi sebenarnya banyak pelaku musik eksperimental yang tertarik untuk perform. Hal itu dibuktikan, pas dulu saya berkolaborasi dengan mbak Gema di STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta). Mereka tertarik dan membuat sesuatu yang menarik juga. Cuma di Surabaya masih sedikit peminatnya. Kalau di Jogja kan ada Jogja Noise Bombing. Kalau di Surabaya selain kami juga ada MKK (Melawan Kebisingan Kota), mereka terus bertahan dan berkembang,” ungkap Twist. “Namun tiga tahun belakangan para pelaku seni eksperimen mulai berkembang. Dan itu juga merupakan titik cerah,” sambung Twist sembari mengetuk abu rokok yang mulai memuai.



WAFT-LAB, melakukan banyak eksperimen dan menolak berjabat tangan dengan segala batasan. Tak sekedar untuk bersenang-senang, hampir setiap karya-karya dari mereka selalu dapat berguna bagi masyarakat. Seperti halnya, mereka melakukan noise musik untuk pengobatan mengunakan frekuensi tertentu. Saking terlalu banyaknya karya yang mereka hasilkan, masyarakat pun kerap kesulitan melabeli kolektif serba bisa ini. “Namun belakangan ini karya-karya WAFT-Lab telah menemukan ciri khasnya sendiri. Makin kesini kami makin kerap membahas soal misteri. Karena menurut kita belum ada yang membahas mengenai seni, teknologi, science dan klenik,” ucapnya sambil terkekeh. “Terlebih kan kita orang Jawa, dan masih mempercayai hal seperti itu. Lalu kami berpikir ini akan menjadi karakter yang kuat menurutku, dan akan selalu menarik jika dibawa ke luar negeri,” sambungnya.



Selain melakukan performance art, WAFT-Lab juga kerapkali mendistribusikan ilmu yang mereka miliki kepada masyarakat melalui workshop.

 

Mulai dari perakitan synthesizer sederhana, visual art bola lampu yang dapat bergerak sesuai irama, mereka juga melakukan workshop ke desa-desa terpencil mengenai teknologi pertanian serta pangan. “Kami mendapat semua ilmu ini juga hasil dari orang-orang yang mau berbagi. Dan harapannya, setiap orang juga bisa memiliki kesempatan belajar seperti kami. Jadi, dengan workshop kita dapat memperluas distribusi ilmu serta informasi,” paparnya.


Pada 16-19 Februari2017 mendatang, WAFT-Lab akan bertandang ke negeri gajah putih, Thailand, pada festival Wonderfruit, untuk melakukan performance art sekaligus workshop di negara tetangga tersebut. Karya anak bangsa semacam ini, bukankah harus lebih banyak disorot? Hebatnya, ini bukan kali pertama mereka melakukan sambangan keluar negeri. “Di Thailand, kita sudah beberapa kali. Singapura, Taiwan pun juga pernah kita datangi. Sebenarnya, ini hanya vakansi yang berkedok aja sih mas,” ungkapnya sambil terbahak-bahak. “Wong emang dasarnya kita ini suka jalan-jalan. Tahun 2017 akan menjadi tahun tersibuk kami. Setelah Thailand, kita akan ke Skotlandia serta Jerman,” sambungnya.

WAFT-LAB memiliki agenda besar pada 2017 mendatang. Diluar kepentingan penelitian mengenai science dan audio engineer, mereka juga pernah memberikan workshop dengan petani di Jombang dan membahas mengenai bahan pangan alternatif. “Jadi sebenarnya banyak tumbuhan liar yang dapat dijadikan makanan, hingga minuman, tidak melulu itu-itu saja. Dan mungkin dengan ini kami dapat membebaskan teman-teman dari monopoli pangan,” tutur Twist.

“Saya kasih bocoran ya, pada tahun 2017 mendatang kita akan bikin project kolaborasi dengan teman-teman Lifepatch Jogja. Kita bakalan riding ke Indonesia Timur. Kita akan bikin workshop sederhana. Mungkin buat anak-anak dan segala yang cukup relevan dibuat disana, sesuai kebutuhan mereka,” sambungnya. “Dengan bertemu orang baru kita akan mendapatkan hal baru, dan tentu kita juga akan bagikan yang kita punya. Kita akan terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hingga nantinya kita akan membuat database online, lalu menulis kebutuhan riil mereka.

Dengan ini, kita akan mengajak para sukarelawan untuk menyumbangkan jasa mereka ke koordinat-koordinat pada databese yang kita buat” tutupnya. Aksi nyata yang dilakukan segerombolan pemuda asal kota Pahlawan ini patut diapresiasi lebih. WAFT-Lab adalah jawaban bahwa hari ini masih ada pemuda-pemuda yang tak hanya banyak wacana namun memiliki impian besar yakni memberi perubahan bagi bangsanya. Satu hal yang dipercaya WAFT-Lab sebagai pegangan, “kami ingin terus belajar dan berbagi,” pungkas Uncle Twist sebagai kalimat akhir dari wawancara.

 

Penulis: Reno Surya

Alya Hardian Nizhar
Alya Hardian Nizhar, 18
Banten
1300 poin
joined 19 minutes ago
Abdi Permana
Abdi Permana, 14
Banten
4600 poin
joined 26 minutes ago